Sali Gobal – Denang Gayo Jakarta Vol.8



Type of Collection: Cassete
Artist/Group: Sali Gobal
Album Title: Denang Gayo Jakarta Vol.8
Origin: Province of D.I. Aceh
Language: Gayo
Year of Release: 1988
Label: DEGOJA Record
Serial number: No Data
Contributor: Oman, Jakarta (21 September 2018)

Reference Link :


NOSong TitleSongwriterArtist
1SolengGemuruh AlamSali Gobal
2DibongSali GobalSali Gobal
3Kemara BujangM.DinSali Gobal
4AwanSali GobalSali Gobal
5Rebe PanangHamidah, M.Din, Pependi SGSali Gobal
6Merek cip.Sali GobalPutra2 Sali GobalSali Gobal
1Raom Cip.Sali GobalM.Din, Hunaini, Pependi SGSali Gobal
2RebengkuwoSali GobalSali Gobal
3Panglime Cip.Sali GobalPutra2 Sali GobalSali Gobal
4Sekulah Cip.Sali GobalM.Din, Pependi SGSali Gobal
5UmahSali GobalSali Gobal


Sali Gobal is a Ceh (“Didong” Singer) as well as the author of the Didong (Gayo Folk Traditional Song) Poetry whose compositions are familiar to the Gayo people until now. The poetry written by the late Sali Gobal contains very deep literature so it takes a very deep understanding to understand the meaning of the content of his Didong Poem.

Sali Gobal also founded the Didong Art Club “Kemara Bujang” which was formed in Aceh, or to be precise in Central Aceh District. Didong art has become one of the arts that is still preserved, especially for the Gayo people. Until now, Kemara Bujang is still active in his work and often actively participates in various arts events at the regional and national levels.

Another Gayo artist, Ibrahim Kadir, said that the figure of Sali Gobal was a pioneer in reforming didong poetry. According to him, before the time of Sali Gobal, the didong poems in Gayo were similar to pantun (Malay oral poetic form).

“As soon as Sali Gobal was standing up (singing didong poems) beautiful poetic poems began to appear, when doing didong he always describes beautiful poems that containing a moral message to the life of the Gayo people. The beautiful poem is depicted with a moral symbol in life. After the era of Sali Gobal’s poems, extraordinary poems emerged from other cehs,” Said Ibrahim Kadir in memory of the figure of Sali Gobal.

About Album

This album is a special album of the 8th volume of Art Didong released in 1988 sung by Sali Gobal. It is one of the eleven volumes of the Denang Gayo Jakarta Art album recorded by Degoja Record. Didong art itself is a traditional art that grows and develops in the Gayo tribe, while the addition of the name Jakarta behind it means that this album was produced in the city of Jakarta and the music players are Gayo people who live in Jakarta. There are 11 songs whose lyrics use the Gayo language.

Apart from Sali Gobal, some of these songs were also composed by other Didong artists. This album is a personal documentation and only circulated to certain circles of society, so it can be said that this cassette album is an exclusive and rare collection because it is produced in a limited edition. The purpose of making this album is to preserve the Didong art which is the original art of the Gayo Region.


The Gayo tribe, is one of the Indonesian ethnic groups who inhabit the Gayo highlands, which is in the central part of Aceh Province. They use Gayo language in their daily conversation. The Gayo tribe has one of the well-known forms of cultural art and is still growing today, namely Didong art. A traditional folk art that combines elements of dance, vocals, literature and music.

In the beginning, didong was used as a means for the spread of Islam Religion through the medium of poetry and was only performed on major Islamic holidays. In the next development, Didong is also performed in traditional ceremonies such as marriage, circumcision, building a house, harvesting, welcoming guests and so on. The Ceh Didong (Didong Singing Artists) in their performances usually choose a theme that matches with the ceremony being held. Other than for entertainment and recreation, these art forms have ritual functions, education, information and as a means to maintain balance and the social structure of society.

The other Cehs who contributed to developing and preserving Didong are: Ceh Tjuh Ucak, Basir Lakkiki Abd. Rauf, Ecek Bahim, Sali Gobal, Daman, Idris Session Temas, Sebi, Utih Srasah, Beik, Tabrani, Genincis, S. Refinery, Ibrahim Kadir, Mahlil, Bantacut, Dasa, Ceh Ucak, Suwt, Talep, Aman Cut, Abu Kasim , Sheikh Midin, M. Din, Abu Bakar Gayo, Ishak Ali/Ceh Sahaq, Aris Teruna Jaya, Tirmino Jaya, Mahlil Lewa, and Ceh kucak Kabri Wali, their names are quite famous in the Gayo people

Players and Equipment

One didong art group usually consists of “Ceh” and other members called “Penunung”. The number can reach 30 people, consisting of 4-5 people “Ceh” and the rest are “Penunung”

Ceh (Didong Singer) is a person who is required to have a complete talent and have high creativity. He must be able to compose poems and be able to sing. Mastery of songs is also necessary because one song does not necessarily match a poem that is used. Members of this Didong group are generally adult males. However, nowadays there are also adult women members.

Penunung is a group of people who accompany the Didong with musical instruments. The equipment used at first was a pillow (clap pillow) and hands (applause both hands from the players). However, in subsequent developments there are also those who use flutes, harmonica, and other musical instruments that are played accompanied by relatively simple accompaniment movements, namely moving the body forward or sideways.

Didong performances are marked by the appearance of two groups (Didong Jalu) in a competition arena. Usually staged in the open arena which is sometimes equipped with a tent. The competing groups will sing riddles to each other and take turns answering them. In this case, the artists will reply to each other with “attacks” in the form of lyrics uttered by their opponents. The lyrics conveyed are usually themed about education, family planning, messages to the government, the beauty of nature as well as criticisms of weaknesses, inequalities that occur in society. Whether the answer is correct or not will be judged by the existing jury, which usually consists of members of the public who are expert in understanding of Didong Art.


The emotional relationship between the Gayo Tribe, especially those who are overseas, makes their kinship even closer. The spirit to preserve the cultural heritage of their ancestors also developed so that in the capital city of Indonesia they formed the Denang Gayo Art group, Jakarta. The concrete steps taken were to document the Didong Gayo regional arts and Gayo Songs so that they would not be forgotten. The same spirit may also have been carried out by other regional tribes with their respective cultures.

(Writer: Ari Yusuf-Museum Musik Indonesia)



Sali Gobal adalah seorang Ceh/Vokal sekaligus pengarang syair Didong (Kesenian Lagu Traditional Rakyat Gayo) yang sampai saat ini karangannya tidak asing lagi bagi masyarakat Gayo. Syair hasil karangan dari Alm. Sali Gobal mengandung sastra yang sangat dalam sehingga butuh penghayatan yang sangat dalam juga untuk memahami makna kandungan dari syair didong karangannya.

Sali Gobal juga mendirikian Klub Kesenian Didong “Kemara Bujang” yang dibentuk di Aceh, atau tepatnya di Kabupaten Aceh Tengah. Dengan berdirinya Kemara Bujang ini, kesenian Didong menjadi salah satu kesenian yang masih terjaga kelestariannya, khususnya bagi Masyarakat Gayo. Sampai saat ini, Kemara Bujang masih aktif berkarya dan masih sering aktif berpartisipasi dalam berbagai acara kesenian di tingkat daerah dan nasional.

Salah seorang seniman Gayo lainnya, Ibrahim Kadir, mengatakan bahwa sosok Sali Gobal merupakan pelopor pembaharu syair-syair didong. Menurutnya sebelum masa Sali Gobal, syair-syair didong di Gayo mirip seperti pantun.

Begitu Sali Gobal berdidong (bernyanyi syair-syair didong) mulai muncul syair-syair puitis yang indah, saat berdidong dia selalu menggambarkan syair-syair yang indah berisi pesan moral terhadap hidup dan kehidupan masyarakat Gayo. Syair indah itu digambarkan dengan simbol moral dalam kehidupan. Setelah syair-syair dari Sali Gobal, baru muncul syair-syair yang luar biasa dari ceh-ceh lain”, demikianlah kata Ibrahim Kadir dalam rangka mengenang Sosok Sali Gobal.


Album ini merupakan album khusus Seni Didong volume ke-8 yang dirilis pada tahun 1988 yang dinyanyikan oleh Sali Gobal. Merupakan salah satu volume dari sebelas volume album rekaman Kesenian Denang Gayo Jakarta yang dibuat oleh Degoja Record.  Seni Didong sendiri merupakan seni tradisional yang tumbuh dan berkembang di masayarkat Gayo, sedangkan ada penambahan nama Jakarta di belakangnya ini bisa berarti album ini   diproduksi di Jakarta dengan pemain-pemain musiknya masyarakat Gayo yang berada di Jakarta. Terdapat 11 buah lagu yang syairnya menggunakan bahasa Gayo.

Selain Sali Gobal, beberapa lagu tersebut juga diciptakan oleh seniman-seniman Didong  lainnya yang terkenal pada waktu itu. Album ini merupakan dokumentasi pribadi dan hanya diedarkan untuk kalangan tertentu saja, jadi bisa dibilang bahwa album kaset ini merupakan koleksi yang eksklusif dan langka karena diproduksi secara terbatas. Tujuan pembuatan album ini adalah untuk melestarikan kesenian Didong yang merupakan Kesenian asli Daerah Gayo.


Suku Gayo, merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang mendiami dataran tinggi Gayo, yang berada di  Provinsi Aceh bagian tengah. Mereka menggunakan Bahasa Gayo dalam percakapan sehari-hari. Masyarakat Gayo memiliki salah satu bentuk kesenian budaya yang terkenal dan masih terus berkembang hingga saat ini, yaitu seni Didong. Sebuah kesenian rakyat tradisional yang memadukan unsur tari, vocal, sastra dan musik.

Pada awalnya didong digunakan sebagai sarana bagi penyebaran agama Islam melalui media syair dan hanya ditampilkan pada hari-hari besar agama Islam saja. Dalam perkembangannya, Didong juga ditampilkan dalam upacara-upacara adat seperti perkawinan, khitanan, mendirikan rumah, panen raya, penyambutan tamu dan sebagainya. Para Ceh Didong (Seniman Penyanyi Didong) dalam mementaskannya biasanya memilih tema yang sesuai dengan upacara yang diselenggarakan. Selain untuk hiburan dan rekreasi, bentuk-bentuk kesenian ini mempunyai fungsi ritual, pendidikan, penerangan, sekaligus sebagai sarana untuk mempertahankan keseimbangan dan struktur sosial masyarakat.

Para ceh yang turut berjasa mengembangkan dan melestarikan didong  diantaranya adalah: Ceh Tjuh Ucak, Basir Lakkiki Abd. Rauf, Ecek Bahim, Sali Gobal, Daman, Idris Sidang Temas, Sebi, Utih Srasah, Beik, Tabrani, Genincis, S. Kilang, Ibrahim Kadir, Mahlil, Bantacut, Dasa, Ceh Ucak, Suwt, Talep, Aman Cut, Abu Kasim, Syeh Midin, M. Din, Abu Bakar Gayo, Ishak Ali/Ceh Sahaq, Aris Teruna Jaya, Tirmino Jaya, Mahlil Lewa, Dan Ceh kucak Kabri Wali, mereka adalah nama-nama yang begitu dikenal dikalangan Masyarakat Gayo.

Players and Equipment

Satu kelompok kesenian didong biasanya terdiri dari para “ceh” dan anggota lainnya yang disebut dengan “penunung”.  Jumlahnya dapat mencapai 30 orang, yang terdiri atas 4-5 orang ceh dan sisanya adalah penunung.

Ceh (penyanyi) adalah orang yang dituntut memiliki bakat yang komplet dan mempunyai kreativitas yang tinggi. Ia harus mampu menciptakan puisi-puisi dan mampu menyanyi. Penguasaan terhadap lagu-lagu juga diperlukan karena satu lagu belum tentu cocok dengan karya sastra yang berbeda. Anggota kelompok didong ini umumnya adalah laki-laki dewasa. Namun, dewasa ini ada juga yang anggotanya perempuan-perempuan dewasa.

Penunung adalah sekelompok orang yang mengiringi didong dengan instrumen musik. Peralatan yang dipergunakan pada mulanya adalah bantal (tepukan bantal) dan tangan (tepukan kedua tangan dari para pemainnya). Namun, dalam perkembangan selanjutnya ada juga yang menggunakan seruling, harmonika, dan alat musik lainnya yang disisipi dengan gerak pengiring yang relatif sederhana, yaitu menggerakkan badan ke depan atau ke samping.

Pementasan didong ditandai dengan penampilan dua kelompok (Didong Jalu) pada suatu arena pertandingan. Biasanya dipentaskan di tempat terbuka yang kadang-kadang dilengkapi dengan tenda. Kelompok yang bertanding akan saling mendendangkan teka-teki dan menjawabnya secara bergiliran. Dalam hal ini para senimannya akan saling membalas “serangan” berupa lirik yang dilontarkan olah lawannya. Lirik-lirik yang disampaikan biasanya bertema tentang pendidikan, keluarga berencana, pesan kepada pemerintah, keindahan alam maupun kritik-kritik mengenai kelemahan, kepincangan yang terjadi dalam masyarakat. Benar atau tidaknya jawaban akan dinilai oleh tim juri yang ada, yang biasanya terdiri dari anggota masyarakat yang memahami didong ini secara mendalam.


Hubungan emosional di antara Suku Gayo, lebih-lebih yang berada di perantauan menjadikan tali persaudaraan mereka semakin erat. Spirit untuk melestarikan  budaya warisan leluhur juga berkembang sehingga di Ibukota Negara mereka membentuk kelompok Kesenian Denang Gayo Jakarta. Langkah konkrit yang dilakukan adalah mendokumentasikan kesenian daerah Didong Gayo dan Lagu Gayo agar tidak terbang ditiup angin. Spirit yang sama barangkali juga telah dilakukan oleh daerah-daerah lain dengan budayanya masing-masing.

(Writer: Ari Yusuf-Museum Musik Indonesia)


Please enter your comment!
Please enter your name here