Peringati Hari Bumi 2021, Komposer dan Seniman Lintas Bangsa Berkolaborasi Rilis “Restore” untuk Support Pendidikan Lingkungan Hidup

0
26

MMI telah menerima pers rilis Hari Bumi 2021 dari Bachtiar Janan, sahabat MMI yang kini berada di Medan Sumatera Utara. Berikut detailnya:

Hari Bumi yang sejak tahun 1970 diperingati pada setiap tanggal 22 April, menjadi sebuah pengingat untuk membangun kesadaran umat manusia dalam menjaga bumi, di mana pada tahun 2021 ini mengusung tema “Restore The Earth” (Memulihkan Bumi Kita).

Hari Bumi 2021 ini diperingati oleh dua orang seniman lintas bangsa dengan merilis karya kolaborasi mereka yang berjudul “Restore”. Single dan video musik kolaboratif ini diluncurkan oleh komposer muda Rani Jambak dari Indonesia, berkolaborasi dengan Lyra Pramuk, vokalis Amerika yang kini berdomisili di Berlin, Jerman.

“Restore” diproduksi secara kolaboratif melalui serangkaian sesi studio digital dan Zoom call, sebagai bagian dari Virtual Partner Residency Program dari Goethe-Institut, Jerman, di mana hasil penjualan karya ini sepenuhnya didonasikan untuk kegiatan pendidikan lingkungan hidup di Sumatera.

Latar belakang budaya dan praktek bermusik kedua seniman yang berbeda bangsa ini menjadi sebuah visi bermusik yang unik. “Restore” menggabungkan aspek musik tradisional Indonesia dan musik barat, dalam pendekatan global kekinian melalui bentuk produksi musik elektronik dengan menampilkan atmosfer suasana alam dan tradisi.

“Karya ini mewakili komitmen bersama kami untuk meningkatkan kesadaran tentang adanya pengrusakan lingkungan yang setiap hari berlangsung dan terjadi di bumi kita,” kata Rani Jambak. “Hari Bumi 2021 adalah waktu yang tepat untuk merilis karya ini,” lanjut komposer muda yang tinggal di Medan ini.

Sementara Lyra Pramuk mengungkapkan, “Kami berharap kolaborasi ini dapat menjadi simbol yang kuat dari potensi musik kontemporer, yang mampu memberdayakan secara lintas budaya dan tradisi yang berbeda, untuk sebuah pesan penyelamatan lingkungan.”

Rani menjelaskan bahwa mereka berdua berkomitmen, setiap penjualan single ini pada platform online Bandcamp, akan didonasikan langsung ke Pusat Pendidikan Lingkungan (PPLH) Bohorok, sebuah organisassi nirlaba yang bergerak dalam program pendidikan lingkungan dan pusat konservasi alam, yang berlokasi di Kecamatan Bohorok, Sumatera Utara, Indonesia. “Pembelian lagu atau donasi dapat dilakukan melalui akun Bandcamp Lyra Pramuk. Minimal donasi yang disalurkan sekaligus sebagai pembelian lagu adalah 1 euro,” lanjutnya.

“Melalui karya ini, diharapkan dapat menarik perhatian internasional terhadap misi dan kegiatan Pusat Pendidikan Lingkungan (PPLH) Bohorok. Siapapun di seluruh penjuru dunia dapat membeli karya kami, yang berarti bahwa mereka secara langsung ikut mendukung kegiatan-kegiatan PPLH Bohorok,” lanjut Lyra Pramuk.

Dalam melahirkan karya “Restore” yang merupakan komposisi musik digital ini diawali dengan proses pengambilan sampling suara instrumen tradisional Sumatera yang dilakukan oleh Rani Jambak, untuk membangun basis pondasi dari komposisi. Kemudian, Lyra Pramuk merespon dengan mengisi beberapa lapis layer rekaman vokal, dengan berbagai warna suara yang berbeda, untuk membentuk paduan suara alami yang unik.

Dalam lagu ini dapat didengarkan vokal paduan suara yang saling bersahutan, yang kesemuanya merupakan vokal dari Lyra Pramuk, yang direkam dan diolah kembali dalam lebih dari 40 file audio berbeda, dan kemudian disatukan bersama komposisi bunyi dari alat-alat musik tradisional yang telah direkam dan diolah secara digital oleh Rani Jambak.

Adapun bunyi instrumen tradisional Sumatera yang dimainkan dalam lagu ini, antara lain adalah alat musik tiup sampelong dari Sumatera Barat, dan batu talempong, yaitu batu yang bila dipukul menimbulkan bunyi nada seperti halnya gamelan kuningan. Suara sampling Batu talempong ini direkam oleh Rani di Nagari (desa) Talang Anau, Kecamatan Gunuang Omeh, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.

Batu talempong sendiri merupakan warisan nenek moyang telah terdaftar sebagai salah satu situs cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau, dengan nomor inventaris: 18/BCB-TB/A/10/2007.

Kolaborasi ini terasa seperti hutan yang hidup. “Kami ingin membuat karya musik yang mencerminkan hati kami, yang dapat menunjukkan harapan besar kami terhadap lingkungan dan dedikasi kami terhadap dunia yang sedang dilanda pandemi,” kata Rani.

Hari ini mereka juga merilis video musik untuk lagu mereka yang menyoroti pemandangan alam yang menakjubkan dan kehidupan liar yang ada di ekosistem Leuser, yaitu hutan hujan tropis seluas 2,6 juta hektar di provinsi Aceh dan Sumatera Utara, Indonesia. Ekosistem Leuser adalah rumah bagi orangutan Sumatera, spesies yang terancam punah yang memainkan peran penting dalam ekosistem hutan hujan tropis.

Adapun pernyataan dari Pusat Pendidikan Lingkungan Bohorok adalah sebagai berikut:

“Pendidikan dan kegiatan lingkungan hdiup penting bagi masyarakat saat ini. Kehidupan global yang dinamis dan perkembangan teknologi yang pesat terus mengancam lingkungan yang semakin tidak terkendali akibat aktivitas yang dilakukan oleh manusia sendiri, kerusakan alam, penggundulan hutan, perburuan hewan, kerusakan ekosistem laut akibat penumpukan sampah, dan lain-lain yang telah terjadi tepat di depan mata kita.

Musik kolaboratif antarbenua karya Rani Jambak & Lyra Pramuk ini menjadi tanda dan pengingat yang kuat bagi seluruh manusia di bumi yang harus bertekad bersama untuk menyelamatkan bumi dari kerusakan akibat pemanasan global yang berkelanjutan.

Di momen peringatan Hari Bumi 2021, kita masih dihadapkan pada pandemi COVID-19 yang hampir mengubah tatanan kehidupan manusia. Tema Pulihkan Bumi Kita adalah ajakan kepada semua orang di Bumi untuk lebih bijak dalam mengambil segala tindakan yang berkaitan dengan alam dan lingkungan. Bersama-sama, kita dapat mencegah bencana perubahan iklim dan kerusakan lingkungan. Bersama-sama, kita bisa memulihkan Bumi kita.

Salah satu cara untuk berpartisipasi dalam gerakan ini adalah dengan memberikan dukungan bagi aksi penyelamatan bumi yang dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti mendukung karya musik serta berdonasi untuk kegiatan penyelamatan hutan dan penyadaran masyarakat. Sebagai media untuk mendorong agar perilaku dan sikap masyarakat dapat lebih peduli terhadap lingkungan kita, dan membangun kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan, sehingga dapat menjadi agenda pribadi dan bisa berkelanjutan.”

Pelajari lebih lanjut tentang Pusat Pendidikan Lingkungan Bohorok (PPLH) di situs web mereka.

Tautan:
Bandcamp: https://lyrapramuk.bandcamp.com/track/restore
Youtube: https://youtu.be/7trRrkuJjhc

Kode Semat Video:

<iframe width="560" height="315" src="https: / www.youtube.com/embed/7trRrkuJjhc" title="pemutar video YouTube" frameborder="0" allow="accelerometer; putar otomatis; clipboard-write; media terenkripsi; giroskop; gambar-dalam-gambar" allowfullscreen=""> </iframe>

PPLH Bohorok
● Beranda: https://www.pplhbohorok.or.id
● Beranda: http://www.yel.or.id
● Facebook: https://www.facebook.com/yel.pplh
● Fanpage: https://www.facebook.com/pplhbohorok/
● Instagram: https://instagram.com/pplhbohorok?igshid=1e6aknr7rwjiz
● Twitter: https://twitter.com/pplhbohorok?s=09
● Saluran Youtube: https://youtube.com/channel/UC-sgSJYQzL6tjePMQYAMAew

Hari Bumi 2021 “Restore Our Earth”
● Hari Bumi 2021: https://www.earthday.org/earth-day-2021/
● Perangkat Aksi Hari Bumi 2021:
https://www.earthday.org/toolkit-earth-day-2021-restore-our-earth/

Credits:
“Restore” by Lyra Pramuk dan Rani Jambak
Digital Single and Music Video
Tanggal Rilis: 22 April 2021
Supported by the Goethe-Institut.
Music composed and produced by Rani Jambak and Lyra Pramuk.
Mixed and Mastered by Ben Pramuk.
Artwork by Riski Januar.
Music video production by Evi Ovtiana in collaboration with Iwan Ikhtiara / Yayasan Ekosistem Lestari.
Filmed at Leuser Ecosystem.

======

Biografi Lyra Pramuk

Lyra Pramuk memadukan pelatihan klasik, atmosfer pop, praktik pertunjukan, dan budaya klub kontemporer, dalam apa yang disebut sebagai sebagai musik rakyat futuristik.

Vokalis dan musisi elektronik Amerika ini dikenal dengan karya-karya kolaborasinya bersama Holly Herndon dan Colin Self. Dia baru saja merilis album debutnya yang mendapatkan banyak pujian, yaitu “Fountain”, melalui label Iceland’s Bedroom Community pada Maret 2020.

Suara dan bunyi harmoni dalam album “Fountain” dibuat sepenuhnya tanpa alat musik, hanya dari suara vokal Lyra Pramuk sendiri, vokal yang dibentuk, diolah, dan diaransemen melalui teknologi digital. Album “Fountain” adalah perjalanan emosional, sensual, dan devosional. Judul ini berasal dari nama keluarganya, Pramuk, yang diterjemahkan dari bahasa Ceko sebagai ‘mata air’ atau ‘air mancur’, yang dalam bahasa Inggris yaitu “Fountain.”

Lagu-lagu dalam album “Fountain” seringkali hadir tanpa kata-kata. Karya artworks album ini dikerjakan oleh seniman visual terkenal Donna Huanca. Pemutaran perdana materi album ini ditampilkan dalam Unsound Festival di Krakow pada tahun 2019, di mana ia tampil melalui rangkaian multi-saluran yang dirancang oleh Ben Frost, yang akan diteruskan dengan kolaborasi berikutnya bersama Ben Frost untuk project soundtrack film.

Lyra pindah dan menetap di Berlin sejak tahun 2013, sebagai penerima beasiswa studi pascasarjana DAAD, dan meneruskan gelarnya di Eastman School of Music di New York. Sejak itu, ia juga mendapatkan residensi di Elektronmusikstudion EMS Stockholm, Open Port Club Residency di Tokyo dan Sapporo, dan Future Music Lab of the Atlantic Music Festival di Maine.

Minat Lyra Pramuk juga pada dunia penulisan, puisi, dan mode, di mana dia kadang-kadang diundang sebagai model. Sebagai seniman pertunjukan, dia telah berkolaborasi secara ekstensif dengan Donna Huanca di acara-acara seperti Glasgow International dan Rochester Fringe Festival.

Diskog https://www.discogs.com/artist/7139378-Lyra-Pramuk
Facebook https://www.facebook.com/lyra.000
Instagram https://www.instagram.com/lyra.pramuk/
SoundCloud https://soundcloud.com/lyra_songs
Twitter https://twitter.com/lyra_pramuk
Situs web https://lyrapramuk.com/

============

Biografi Rani Jambak

Musisi dan komposer kelahiran Medan, 29 Maret 1992 ini memiliki nama lengkap dan gelar akademis: Rani Fitriana, S.Pd.,M.Cr.Ind. Gadis berdarah Minangkabau ini mengenyam pendidikan S-1-nya di Program Studi Seni Musik, Jurusan Seni Drama, Tari, dan Musik, Fakultas Bahasa dan Musik, Universitas Negeri Medan, sejak 2010-2015. Rani melanjutkan pendidikan S-2 di Jurusan Creative Industry, Department of Media, Music, Communication and Cultural Studies, Faculty of Art, Macquarie University, Sydney, Australia, melalui program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementrian Keuangan Indonesia, gelar master diperolehnya pada tahun 2018.

Sepulangya dari pendidikan di Australia, Rani mulai totalitas terjun berkarir dan berkarya di jalur musik. Rani tampil dalam berbagai event budaya dan event musik seperti Tao Silalahi Arts Festival 2018 di Danau Toba, Mini Concert and Discusion di Yogyakarta, International Seminar Australia, France & Japan AR Education, Celeb Nature Festival di Makassar, Medan Most Inspiring Award 2018 & Medan Kover Face IV, Festival Musik Dalam Layar (Episode 3) Live streaming concert (disponsori OneBeat Accelerator & @america), 24 Hours Medan – Ekseperimental film bisu dengan live music sebagai soundtrack (disponsori oleh Robert Bosch Stiftung, MitOst, Embassy of the Federal Republic of Germany in Jakarta), dan masih banyak lainnya.

Rani Jambak menjadi project manager pada sebuah event Medan Soundspectives – sebuah festival budaya dengan fokus pada seni mendengar dan keberagaman akustik kota Medan (disponsori oleh Robert Bosch Stiftung, MitOst, Embassy of the Federal Republic of Germany in Jakarta). Di akhir tahun 2020, ia menjadi komposer serta sound designer dalam instalasi audio visual (directed by Evi Ovtiana) bertajuk: Bétel: Keeping Tradition dan Bétel: Embracing Questions, yang mengupas tentang tradisi sirih, pada rangkaian Novembré Numerique 2020 (peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Perancis – Indonesia, yang disponsori oleh Institut Français d’Indonésie Jakarta).

Dalam hal karya, melalui Nature Creative Lab, studio dan laboratorium musik kreatif yg dikembangkan Rani Jambak untuk eksplorasi musik dan desain suara, Rani telah melahirkan beberapa karya kreatif yang dibaginya dalam beberapa kategori: “Hybrid of Sumatra”, yaitu lagu-lagu tradisional Sumatera yang di-aransemen ulang dengan kemasan musik elektronik, “#formynature” lagu untuk kampanye pelestarian lingkungan, “Contemporary Soundscapes” yaitu komposisi musik yang mengeksplorasi keberagaman bebunyian khas, dan “Comercial” yaitu musik-musik untuk kepentingan komersial.

Dalam “Hybrid of Sumatra”, Rani telah melahirkan karya-karya aransemen musik elektronik untuk lagu-lagu etnik: Piso Surit (Karo) pada tahun 2018, Pak Ketipak Ketipung (Melayu) pada tahun 2018, Hybrid of Serampang 12 (Melayu) pada tahun 2019, Serma Dengan Dengan (Simalungun) pada tahun 2020.

Sedangkan dalam “#formynature”, Rani telah melahirkan karya-karya kampanye penyelamatan lingkungan hidup yaitu: Nature (2018), Smoke Blanket (2019), The Eyes (2020, berkolaborasi dengan Orangutan Haven). Sebagai salah satu rangkaian (alternatif produk kampanye) dari rilisan lagu The Eyes, Rani Jambak juga membuat beberapa seri episode podcast berjudul Pongo, dalam channel-nya Spotify-nya, yaitu Cuap-Cuap Rani Jambak.

Untuk kategori “Comercial”, beberapa karya musik Rani antara lain yaitu iklan komersil Go Food (2020), beberapa musik untuk penelitian dosen Universitas Bina Guna dan mahasiswa S-2 Universitas Negeri Medan mengenai senam dengan teknik pencak silat Minangkabau dan senam aerobik Sumut (2021), musik untuk tari etnik modern Aceh untuk komunitas tari GM Medan (2019), mengaransemen ulang lagu anak Medan menjadi lagu anak Medan lawan corona (2020).

Sementara untuk kategori “Contemporary Soundscapes”, Rani telah menghasilkan komposisi-komposisi musik yang mengeksplorasi keberagaman bebunyian khas dalam karya-karya “Sound of Medan” (2020, disponsori Goethe Institut Singapore, dalam project Sound of X, yang melibatkan 8 negara), “Harmoni Sumatera Utara” (2020, disponsori HUMAS Provinsi Sumatera Utara), dan “Suara Minangkabau” yang disponsori oleh Dirjen Kebudayaan Republik Indonesia) yang baru dirilis pada tanggal 29 Maret 2021 yang lalu.

Pengumpulan koleksi soundscape bunyi-bunyian khas dari berbagai penjuru nusantara, saat ini menjadi salah satu konsentrasi Rani. Setelah karya Sound of Medan dan Suara Minangkabau, saat ini ia tengah berproses mempersiapkan karya-karya terbarunya yaitu Suara Tanah Dewata Bali dan Suara Nias.

Rani berusaha mendorong agar tumbuh minat dari para pelaku dunia musik untuk melakukan berbagai perekaman soundscape bunyi-bunyian khas suatu daerah, untuk kemudian diolah kembali dan diaransemen menjadi komposisi-komposisi kreatif.

Facebook: https://www.facebook.com/rany.chaniago.7/
Instagram: https://www.instagram.com/ranijambak/
Soundcloud: https://soundcloud.com/user-868695452
YouTube: https://www.youtube.com/channel/UCaJrpy9mKwH0ISF4LSKM-zw

============

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here