[KLIPING MEDIA] Jumpa Pers: Traditional and Ethnic Music in Indonesia

0

Puji syukur kepada Tuhan bahwa Museum Musik Indonesia (MMI) berhasil menyusun 100 Album Musik Tradisi-Etnik Indonesia. Meliputi wilayah Aceh di bagian barat sampai Papua di timur. Album-album tersebut adalah koleksi MMI. Sebagian berasal dari sumbangan masyarakat yang peduli terhadap pelestarian budaya bangsa Indonesia. Nama-nama penyumbang kami cantumkan pula. Dari 34 provinsi di Indonesia, belum semua terwakili. Rekaman fisik berupa vinyl, kaset umumnya sangat minim informasi. Tidak ada data tahun produksi, nama pencipta lagu, profil artis dsb, sehingga kami mencari dari referensi sumber lain. Dokumentasi ini didukung pendanaan dari MOWCAP-Unesco. Sasaranya agar data bisa diakses dengan mudah oleh masyarakat. Ini merupakan upaya pelindungan budaya agar tetap terjaga dan tidak punah di tengah-tengah serbuan budaya internasional.

Ketua Museum Musik Indonesia
Hengki Herwanto

==========================

  • Project Start: 1 August 2021
  • Project Completion Date: 20 December 2021
  • Pengawas/Supervisor: Mr.Hengki Herwanto
  • Kepala Keuangan: Mrs. Ratna Sakti Wulandari
  • Project Manager: Mr. Ari Yusuf

Atribut Buku

Writer: Museum Musik Indonesia
Database Officer        : Abdul Malik, Achmad Djauhari, Anang Maret Tri Basuki, Ari Yusuf Prasetyo, Edra Ramadhan Praliansyah, Hengki Herwanto, Ratna Sakti Wulandari, Usman Mansur
Editor: Ari Yusuf Prasetyo, and Hengki ..Herwanto
Cover design: Edra Ramadhan Praliansyah
Layout: Edra Ramadhan Praliansyah
Publisher: MNC Publishing collaboration with ..Museum Musik Indonesia
Prologue: Museum Musik Indonesia
Epilogue: Museum Musik Indonesia
  
Address: Jl. Nusakambangan No. 19, ..Kelurahan
   Kasin, Kecamatan Klojen,.Kota Malang,
   Jawa Timur, Indonesia.65117
Office number: (+62) 341 3012518 
Website: www.museummusikindonesia.id
Email: museummusikindonesia@yahoo.co.id
Instagram: @museummusikindonesia
Facebook: Museum Musik Indonesia
Youtube: Museum Musik Indonesia
Book size: 23 x 15,5 cm
Page amount: 338
Paper: Art Paper
ISBN: 978-602-462-812-3
First printing: December 2021

Kriteria Pengkurasian oleh Museum Musik Indonesia

  • Satu grup/satu musisi (bukan kompilasi)
  • Berbahasa daerah
  • Minimal terdapat data judul album, nama musisi, judul lagu
  • Diusahakan ada instrumen musik daerah terkait di musiknya
  • Diprioritaskan rekaman di bawah tahun 2000an
  • Diusahakan rekamannya memiliki cover
  • Kompilasi dapat terpilih apabila mengandung rekaman koleksi yang berasal dari provinsi yang langka.
  • Memiliki Nilai penting (dari segi sejarah/budaya/edukasi)

Key Activities

  • Proses seleksi dan kurasi dari seluruh koleksi rekaman musik di MMI hingga menjadi 100  koleksi terpilih
  • 100 koleksi musik tradisional/etnik yang terpilih tersebut kemudian diklasifikasikan berdasarkan asal provinsinya.
  • Dari 100 album tersebut, masing-masing discan atau diambil gambar digitalnya.
  • Setiap album, gambar diambil dari berbagai sudut yaitu minimal ada: cover depan, cover belakang dan fisik rekamannya
  • Masing-masing album dibuat DESKRIPSI dan STORY TELLING. Deskripsi berisi: nama penyanyi, judul album, tahun release, label dsb. Story Telling berisi: biography musisi, cerita tentang album, story dan nilai penting
  • Narasi dibuat menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris
  • Hasil pekerjaan diupload di website MMI
  • Pembuatan buku katalog yang berisikan dokumentasi 100 album tradisional tersebut
  • Buku Katalog dibuat dengan menggunakan bahasa Inggris. Tebal buku sekitar 350 halaman dan dicetak secara terbatas.

Penutup

  1. Project ini hanya menggambarkan sebagian kecil dari kekayaan budaya musik tradisi di Indonesia yang ada di koleksi MMI, masih banyak koleksi yang belum terdokumentasi
  2. Terdapat beberapa data refrensi tentang artis dan albumnya yang susah didapat dikarenakan terbatasnya informasi yang ada terkait koleksi tersebut.
  3. Koleksi album terbanyak masih didominasi dari Pulau Jawa
  4. MMI masih belum memiliki koleksi musik tradisi dari provinsi: Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo
  5. Diharapkan kedepannya ada donatur baru yang menyumbangkan koleksi musik tradisi dari daerah tersebut

Kesimpulan

Informasi mengenai keanekaragaman musik etnik & tradisi Indonesia hasil dari projek ini bisa diakses oleh public dengan mudah. Tujuan Utama dari project ini adalah untuk mengkonservasi dan menyebarkan sejarah musik di Indonesia dalam bentuk digital, khususnya dari segi musik tradisi kepada seluruh masyarakat Indonesia dan dunia sebagai bagian dari arisan budaya Dokument Heritage.

Hasil dari project ini dapat diakses melalui link berikut

=========================

Jumpa Pers 15 Desember 2021

=============================

NewMalangPos: Rujukan Kolektor, Garap Program MOWCAP UNESCO

NewMalangPos: MMI Launching Dokumentasi 100 Album Musik Tradisi dari Aceh Hingga Papua

NEW MALANG POS- Sebagai upaya mengkonservasi dan menyebarkan sejarah musik di Indonesia khususnya dari segi musik tradisi kepada seluruh masyarakat Indonesia dan dunia, Museum Musik Indonesia (MMI) resmi meluncurkan dokumentasi 100 album musik tradisi yang berasal dari Aceh hingga Papua, Rabu (15/12).

Peluncuran dokumentasi 100 album itu juga sebagai bagian dari melestarikan warisan budaya dalam bentuk dokumen heritage. Rata rata yang masuk dalam dokumentasi itu merupakan album musik yang terbit sebelum tahun 2000.

Ketua MMI Hengki Herwanto mengatakan dokumentasi itu merupakan sebuah project yang bekerjasama dengan Memory of the World Committee for Asia and the Pacific (MOWCAP) UNESCO. Organisasi dunia dalam bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan itu memberi kesempatan kepada organisasi yang ada di Asia Pasifik untuk mendokumentasikan karya budayanya.

“Sehingga kami berfikir motivasi kami adalah lebih memperkenalkan tradisi Indonesia kepada masyarakat serta masyarakat dunia,” jelas Hengki kepada New Malang Pos usai peluncuran dokumentasi tersebut.

Dokumentasi 100 album musik tradisi itu merupakan hasil seleksi dan kurasi dari koleksi album musik tradisi milik MMI. Selain umurnya, album musik tradisi yang terpilih adalah yang memiliki nilai penting (sejarah, budaya, edukasi, red) dan juga langka.

Dokumentasi tersebut selain dirupakan menjadi buku katalog berbahasa Inggris, lanjut Hengki, juga dipublikasikan secara digital. Yakni melalui website www.museummusikindonesia.id yang bisa diakses di seluruh dunia.

“Memang yang disasar oleh UNESCO keterbukaan dan kemudahan akses informasi terhadap karya -karya budaya itu menjadi sasaran utama dari program ini. Informasi dan data ini bisa diakses lebih mudah oleh seluruh masyarakat Indonesia dan dunia,” katanya.

Pembuatan dokumentasi itu memakan waktu lima bulan. Yakni sejak Agustus hingga Desember. Buku katalog dari dokumentasi itu memiliki tebal 350 halaman dan dicetak secara terbatas.

Sekretaria Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Indra Eka Widya Jaya melalui zoom meeting menyampaikan apresiasinya atas launching tersebut.

“Kami sangat mengapresiasi sekali apa yang telah dilakukan dan dilaksanakan oleh MMI. Kami sangat kaget dalam artian positif sekali, ketika kami berkunjung ke MMI beberapa waktu lalu. Melihat bahwa semangat yang begitu besar,” pujinya.

 (ian/jon/nmp)

Sumber: MMI Launching Dokumentasi 100 Album Musik Tradisi dari Aceh Hingga Papua – New Malang Pos

Seru.co.id: MMI Sukses Dokumentasi 100 Album Musik Tradisi Nusantara

Malang, SERU.co.id – Bertempat di Museum Musik Indonesia (MMI) Jalan Nusakambangan 19 Malang, 100 Album Musik Tradisi Nusantara berhasil dilaunching. Kegiatan tersebut atas kerjasama MMI dengan Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO Kemendikbud Ristek, UNESCO dan MOWCAP (Memory of the World Committee for Asia and the Pacific).

Ketua Museum Musik Indonesia, Hengki Herwanto menjelaskan, latar belakang kegiatan ini berawal pihak UNESCO membuka peluang untuk memberi kesempatan kepada organisasi-organisasi di Asia Pasifik dalam mendokumentasikan karya-karya budayanya di wilayah masing-masing.

“Sehingga kami berfikir motivasi kami adalah lebih memperkenalkan tradisi Indonesia kepada masyarakat Indonesia serta dunia. Dengan itu kita posting di website, maka seluruh dunia bisa melihat,” seru Hengki Herwanto, Rabu (15/12/2021).

Menurutnya, UNESCO menyasar untuk keterbukaan dan kemudahan akses informasi terhadap karya-karya budaya. Terlebih sasaran utama dari program tersebut, informasi dan data bisa diakses lebih mudah oleh seluruh masyarakat Indonesia dan dunia.

Terkait jumlah, pihaknya mengaku sebagian besar memang koleksi berada di wilayah Jawa. Karena penduduk Indonesia tersentral di Jawa bukan hanya musik, tetapi juga dari sektor yang lain.

“Koleksi kita berbentuk rekaman sekitar 25.000, tapi itu barat dan Indonesia. Indonesia ada yang dangdut dan pop, mungkin yang tradisinya 20 persen, popnya 50 persen,” terang Hengki.

Senada, Perwakilan Sub Koordinator SPKT Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan, Indra Eka Widya Jaya mengungkapkan, sangat mengapresiasi sekali apa yang telah dilakukan oleh MMI. Menyambut positif serta kagum ketika berkunjung ke MMI beberapa waktu lalu, melihat bahwa semangatnya begitu besar.

“Dari tempat memang tidak begitu besar, namun semangat ini saya rasakan hingga kami pulang. Kami berfikir apalagi yang bisa kami lakukan. Karena ini sudah sangat maju sekali apa yang dilaksanakan, walaupun memang cara-caranya sangat sederhana,” beber Indra.

Selanjutnya, pihaknya menilai kesungguhan hati dari para pecinta musik Indonesia yang berada di MMI benar-benar tercipta. Tidak hanya koleksi musik yang ada di Nusantara, tetapi juga berasal dari luar negeri. Kemudian koleksinya tidak hanya bentuk rekaman, bahkan juga ada beberapa memory dunia dari beberapa artis-artis yang ada di Indonesia.

Indra berterima kasih atas koleksi hingga data yang begitu banyak sekali. Dari MMI, pecinta seni musik bisa memanjakan kebudayaan secara bersama-sama dan memang banyak tangan yang membantu.

“Hanya bisa berpesan bahwa ayo dan selamat berjuang. Mungkin ini adalah bukan titik akhir, tetapi titik awal dari segalanya,” tandasnya. (jaz/rhd)

Sumber: MMI Sukses Dokumentasi 100 Album Musik Tradisi Nusantara (seru.co.id)

Media-dpr: Museum Musik Indonesia Kerjasama Dengan KNIU, UNESCO, MOWCAP Launching 100 Lagu Nusantara

MALANG | MEDIA-DPR.COM, Museum Musik Indonesia (MMI) kembali membuat gebrakan istimewa dengan melaunching 100 lagu album Nusantara pada Rabu (15/12/2021) di Gedung Kesenian Gajayana Jalan Nusakambangan 19.

Sebanyak 100 lagu album tradisional dan etnik Nusantara telah didaftarkan ke UNESCO oleh MMI. Ini adalah salah satu upaya dari MMI selama ini sebagai Museum Musik dengan melestarikan musik asli Indonesia agar diakui oleh dunia.

Tidak hanya itu, MMI juga telah memfasilitasi Kota Ambon sebagai Kota Musik di Indonesia yang diakui oleh UNESCO.

Hengky Herwanto sebagai salah seorang pendiri MMI mengatakan, kenapa Kota Ambon yang dipilih sebagai kota musik di Indonesia, karena salah satunya adalah peran besar dari Kepala daerahnya yang sangat mensupport perkembangan musik di daerahnya.

“Semua itu peran besar dari Kepala daerahnya juga mas, karena kami dari museum musik hanya memfasilitasi dan mendorong agar Indonesia juga diakui sebagai salah satu negara yang mempunyai banyak jenis musik,” papar pria yang selalu ramah menjawab pertanyaan dari media.

Hengky menambahkan untuk jangka pendek ini kota Malang sendiri juga akan mengadakan konser 7 ruang dengan menampilkan musisi musisi kota Malang, agar kota Malang sebagai kota yang juga banyak melahirkan talenta talenta berbakat di musik tetap diperhitungkan dan tidak tenggelam di kancah dunia musik paling tidak di tanah air.

“Rencana besok kita juga akan menghadap ke Sekda kota Malang agar event kita ini paling tidak ada support dan perhatian dari Pemkot Malang,” harap pria yang selalu memakai ikat kepala sebagai ciri khasnya ini.

Ratna Wulandari salah seorang pengurus MMI juga menjelaskan bahwa selama ini MMI bertahan dengan bantuan atau donasi dari para donatur yang peduli dengan warisan budaya Indonesia berupa karya musik.

Beberapa atap museum juga kelihatan bocor saat jumpa pers launching 100 lagu album Nusantara. Kebetulan kota Malang saat ini sedang hujan deras mengguyur setiap harinya.

Beberapa koleksi MMI sendiri tidak hanya berasal dari karya musik musisi tanah air, tetapi juga sumbangan dari mancanegara. Baik itu berupa karya lagu seperti PH, kaset, alat musik modern juga tradisional sumbangan dari beberapa Kepala daerah di Indonesia.

Yang menarik adalah dengan keterbatasan dalam hal pemeliharaan, MMI tetap menjadi kebanggaan warga kota Malang. (Hendro BL)

Sumber: Museum Musik Indonesia Kerjasama Dengan KNIU, UNESCO, MOWCAP Launching 100 Lagu Nusantara (media-dpr.com)

Republika Jogja: Mengabadikan Musik Tradisi Nusantara untuk Generasi Bangsa

REPUBLIKA.CO.ID,

Ketua MMI, Hengki Herwanto mengatakan, upaya untuk mengenalkan musik tradisi Nusantara sebenarnya sudah banyak dilakukan. Hengki pernah melihat salah satu unggahan video di YouTube yang mendapatkan respons luar biasa dari masyarakat. “Jadi memang usaha untuk itu sudah ada, cuma hasilnya belum begitu meluas,” kata Hengki kepada wartawan di MMI, Rabu (15/12).

Menurut Hengki, salah satu cara untuk bisa melestarikan musik tradisi Nusantara adalah dengan memasukkannya ke dalam kegiatan sekolah. Langkah ini hanya bisa dilakukan melalui kebijakan pemerintah. Sementara itu, MMI yang merupakan pihak swasta tidak memiliki peranan untuk hal tersebut.

Mendokumentasikan Musik Tradisi Nusantara

MMI baru saja meluncurkan program pendokumentasian musik tradisi Nusantara dalam wujud buku yang juga ditayangkan di situs MMI. Program ini merupakan hasil bantuan yang diberikan oleh UNESCO wilayah Asia Pasifik. Selain MMI, ada dua instansi Indonesia lainnya yang juga mendapatkan bantuan tersebut dari UNESCO.

Pada program dokumentasi ini, MMI merangkum 100 album musik tradisi Nusantara dari Aceh sampai Papua. Semua rangkuman ini berasal dari koleksi MMI yang sebagian besar merupakan donasi dari masyarakat. “Ada yang dari orang Jawa, Belanda, luar Jawa seperti Pontianak,” ucap Hengki.

Hengki tak menampik, hasil dokumentasi MMI masih belum sempurnanya. Pasalnya, belum semua provinsi masuk ke dalam daftar 100 musik tradisi Nusantara. Daerah-daerah yang dimaksud di antaranya seperti Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara dan Gorontalo.

Salah satu penyebab MMI tidak menyertakan musik tradisi Nusantara dari daerah tersebut, yakni ketidaktersediaan bentuk fisik musik dari wilayah-wilayah yang dimaksud. Hal ini menjadi salah satu kendala dalam proses pendokumentasian. 

Secara keseluruhan, proses pendokumentasian berjalan dengan baik dan lancar. Namun Hengki masih menemukan album-album yang tidak diketahui tahun produksinya. Bahkan, tidak ada keterangan nama pencipta lagu dan asal penyanyi sehingga harus mencari di referensi lain. 

Kekurangan pada aspek-aspek tersebut menyebabkan proses pencatatan untuk kesejarahannya berkurang. Seperti diketahui, suatu hal bisa dimasukkan sebagai nilai sejarah apabila keterangan-keterangan tersebut diketahui dengan baik. Oleh karena itu, Hengki khawatir pengetahuan musik-musik tersebut akan hilang termakan zaman apabila tidak didokumentasikan dengan baik.

Manager Program, Ali Yusuf menerangkan, ada sejumlah tahapan yang dilakukan MMI untuk menghasilkan dokumentasi 100 album musik tradisi Nusantara. Pertama, MMI melakukan seleksi dan kurasi dari seluruh koleksi yang tersedia. Kemudian terpilih 100 koleksi yang dilanjutkan dengan pengklasifikasian berdasarkan asal provinsi. 

Adapun kriteria pengkurasian yang dilakukan MMI antara lain album harus dirilis oleh musisi secara grup, bukan kompilasi. Kemudian berbahasa daerah dan minimal terdapat data judul album, nama musisi dan judul lagu. Lalu harus ada instrumen musik daerah dan dirilis sebelum era 2000an.

“Sebenarnya ada beberapa yang dirilis di atas tahun 2000, tapi sebagian besar di bawah itu,” kata Ari.

Di samping itu, album harus memiliki sampul baik depan maupun belakang. Jika terpaksa memilih album berbentuk kompilasi, MMI memastikan, karya tersebut berasal dari provinsi dengan album langka. Kemudian lagu-lagu yang disajikan harus memiliki nilai dari segi sejarah, budaya dan edukasi. 

Melalui dokumentasi musik tradisi Nusantara yang berjumlah 350 halaman ini, Ari berharap, masyarakat bisa mengetahui informasi tersebut. Apalagi informasi tersebut juga dipublikasikan di internet sehingga mudah diakses oleh masyarakat umum. Hal yang pasti, kata Ari, program ini merupakan salah satu cara untuk melestarikan budaya Indonesia. 

Nilai Penting untuk Generasi Muda

Melalui pengenalan musik-musik tradisi Nusantara, Hengki berharap, pendengar bisa mendapatkan nilai penting yang ingin disampaikan musisi. Sebab, dia meyakini, setiap karya seni musik pasti ada nilai yang ingin disampaikan oleh senimannya kepada masyarakat. Salah satunya, album “Malin Kundang” yang memiliki nilai agar generasi muda bisa menghormati kedua orang tuanya.

“Kemudian ada juga musik tradisi yang dimainkan oleh warga negara Belanda. Melalui musik, itu ternyata bisa menjalin persahabatan antarnegara,” kata dia menambahkan.

Oleh: Wilda Fizriyani/Jurnalis Republika

Alunan bunyi gamelan disertai syair berbahasa daerah terdengar dari sebuah piringan hitam di Museum Musik Indonesia (MMI). Pemutaran musik ini sengaja dilakukan guna mengenalkan salah satu contoh musik tradisi Nusantara.

Popularitas musik tradisi Nusantara memang kalah jauh dengan musik dangdut maupun pop. Meskipun demikian, hal ini bukan berarti generasi muda harus melupakan keberadaan musik-musik tradisi Nusantara begitu saja. Musik tradisi Nusantara bagaimana pun juga bagian dari budaya Indonesia yang harus diabadikan.

Sumber: Mengabadikan Musik Tradisi Nusantara untuk Generasi Bangsa | RepJogja (republika.co.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here