BERITA DUKA: Errol Jonathans (CEO Suara Surabaya Media)

0

RIP Errol Jonathans (1958-2021)

Telah berpulang Errol Jonathans CEO Suara Surabaya Media pada Selasa, 25 Mei 2021  pukul 11.06 WIB setelah dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Husada Hutama Surabaya karena sakit.Berita duka in disampaikan Patrick Jonathans, adik Pak Errol kepada Suara Surabaya Media dan dimuat suarasurabaya.net.

Errol Jonathans lahir 27 April 1958. Merampungkan pendidikan di SMP Santo Yosef Surabaya, SMAK Santa Maria Surabaya, Akademi Wartawan Surabaya angkatan 1976.

Saat even Jazz Traffic Festival, Minggu, 27 November 2011 di Grand City Surabaya. Saya dan Tri Sulistyowati, Ilmi Zamzam Firdaus dan fotografer Yoga Tri Priyanto sempat wawancara dengan Pak Errol Jonathans.Dokumentasi wawancara terlampir.

WAWANCARA DENGAN ERROL JONATHANS
DIREKTUR UTAMA RADIO SUARA SURABAYA

Ini semacam prakata:

Disela-sela acara Jazz Traffic Festival, Minggu, 27 November 2011 mulai pukul 12 siang hingga Senin, 28 November 2011 pukul 01.30 wib. Kami beberapa kali ngobrol dengan Pak Errol Jonathans, Direktur Utama Radio Suara Surabaya.  Baik di Stage A, B maupun C di Grand City Surabaya. Seusai pentas Sandy Winarta Quartet di Stage B Indoor pukul 15.00 wib, kami menyapa Pak Errol Jonathans. “Pak, apakah nanti berkenan wawancara dengan kami dari www.gerbangnews.com ?”.

Beliau spontan menjawab ,

”Ok. Saya disini sampai acara selesai”

“Terima kasih, Pak.”

Seusai pentas Tompi selesai pukul 01.30 wib, kami leyeh leyeh ngeluk geger, meluruskan otot otot kaki,  di depan Stage B bersama Mas Isa Ansori, Cak Rully Anwar dan Mbak Rita Noya.  

Ngobrol gayeng soal peristiwa peristiwa dibelakang layar. Gojlok gojlokan dengan Cak Rully Anwar. “Pawang hujan e mandi temen rek… acara wis mari langsung udan…”.

Pak Errol Jonathans berdiri di depan Stage B. Kesempatan baik tak datang dua kali….

Dan inilah wawancara singkat itu..

Apakah gagasan dasar penyelenggaraan acara Jazz Traffic Festival ?

Kita itu sudah lama punya acara Jazz Traffic untuk siaran, kemudian kita melihat kalau kita ngomongin jazz itu  tidak hanya sebatas on air tetapi juga harus ke off  air. Sebetulnya kegiatan off air itu sejak lama telah kita adakan. Di tahun-tahun 80 dan  90-an itu kita sebut dengan acara Apresiasi Jazz dan itu kita bikin di Pusat Kebudayaan Prancis, dan di lokasi-lokasi lain bekerja sama dengan  Konsulat Amerika kemudian Belanda termasuk dengan lembaga lokal disini yang menampilkan Bubi Chen . Termasuk  mengundang Indra Lesmana, Embong Rahardjo, juga Idang Rasjidi. Berangkat dari pengalaman itu kemudian kita berpikir bahwa sudah waktunya untuk bikin festival. Jadi itu yang sebetulnya proses, prosesnya itu bukan sesuatu yang mendadak tetapi ada rintisan-rintisan yang sudah lebih dulu jalan.

Kalau dari list pengisi acara kan ada musisi jazz yang sudah  berpengalaman dan musisi muda, itu kenapa Pak?

Saya melihatnya begini, belajar dari pengalaman melihat berbagai festival jazz internasional ternyata memang tidak ada yang 100% murni jazz.  Sama ketika saya dua kali ke North Sea Jazz Festival  itu ternyata musiknya mix tetapi harus kental di jazz.  Tetapi buat saya bahwa pertama ini lebih melihatnya ke sebuah pesta kebudayaan. Musik jazz buat saya adalah sebuah kebudayaan. Yang kedua ini strategi, jadi jazz itu kita tahu bukan musik populis. Jadi gimana caranya untuk mendapatkan  massa yang lebih besar. Maka pintu masuknya adalah pintu masuk pada selera publik dan itu kemudian ketika mereka berkumpul disini punya kesempatan memperkenalkan jazznya. Siapa tahu bahwa disini mereka punya apresiasi, tertarik lalu tinggal mengembangkan. Jadi itu dua hal yang paling penting.

Sampai acara berakhir dini hari ini, bagaimana apresiasi penonton  menurut Bapak?

Ya.. kalau menurut saya secara flow pengaturan artis sampai puncak itu ternyata tidak keliru. Kita bisa melihat bahwa Tompi menjadi puncak walaupun sebetulnya Idang Rasjidi itu juga puncak, Bubi Chen itu juga puncak, Indra Lesmana itu juga puncak tapi yang lebih berbahaya bagi saya itu kalau endingnya,... endingnya anti klimaks, tapi ternyata itu tidak. Saya rasa tidak ada pertunjukkan jazz itu sampai jam 2 dini hari (....sambil tertawa).

Sejauh ini adakah hambatan bagi panitia?

Hambatannya bahwa ini pertama kali kita laksanakan.

Apakah  ada  rencana menggelar Jazz traffic Festival lagi tahun depan, Pak?

Saya harap begitu, kalau melihat animo yang seperti ini kita optimis. bahwa komunitas penikmat jazz itu sudah tumbuh dan agak berbeda dengan situasi yang saya alami di tahun-tahun 80-90-an. Jazz waktu itu snob artinya bahwa orang yang tidak suka jazz dianggap levelnya dibawah.  Disini tidak, karena saya melihat orang yang datang termasuk yang generasi muda itu ternyata punya apresiasi dan mengerti tentang jazz... itu dari spontanitas mereka. Termasuk yang kita lihat ketika beberapa musisi mainstream justru itu menadapatkan apresiasi dari yang muda.  Itu kalau buat saya bukan lagi snob mereka memang  sudah menikmati, tapi kalau buat saya barangkali sebuah proses investasi yang panjang,  edukasi, siaran yang continue. Jazz Traffic itu kan sudah 28 tahun siarannya, dan itu dari awal kita sadar bahwa itu bukan program yang bisa mendatangkan uang. 

Bisa tidak Jazz Traffic Festival yang kali ini sepanjang 12 jam nantinya  menjadi 24 jam?

Why Not? Segala kemungkinan bisa terjadi.  Mungkin bukan hanya sehari tapi bisa dua hari, ya kalau bisa berjalan seperti North Sea Jazz Festival itu bisa 3 hari malah bahkan bisa 5 hari dengan artis yang tidak terhitung jumlahnya.

Apakah Jazz Traffic Festival mendapat dukungan dana dari pemerintah?

Tidak ada. Ini upaya kita, pihak swasta berhimpun kemudian bikin networking.  Tapi kita kepingin mempersembahkan ini untuk kota dan berharap Jazz Traffic Festival menjadi salah satu ikonnya Surabaya. Kita berharap begitu. Karena acara-acara semacam ini implikasinya kemana-mana bukan cuma soal tontonan musik, tetapi ini akan menjadi peristiwa. Tadi saya surprise karena kawan kawan dari Makasar Jazz Society  datang. Jadi ini implikasinya bisa ke bisnis,  ke ekonomi kemudian social..  banyak gitu ya. Artinya kalau saya impikan, saya harus mengacu kepada North Sea Jazz Festival. Sekarang ini  skalanya masih sangat kecil.. Kalau North Sea Jazz Festival bukan cuma pertunjukan musik jazz tetapi sudah mulai ada workshop, master class, bertemunya komunitas pecinta piringan hitam jazz, bursa kemudian ada award.

Kalau  tahun depan Jazz Traffic Festival jadi diadakan lagi, apakah ada musisi asing yang diundang?

Kita sedang berpikir itu bahwa setiap tahun mestinya ada sesuatu yang berbeda. Nah ada gagasan-gagasan itu bagaimana kalau tahun depan mulai ada tamu-tamu. Ok, saya bilang persiapannya butuh setahun kalau yang begitu karena ada artis seperti itu schedule setahun ke depan sudah ada semua, tapi kita lihat nanti lah. Yang penting buat saya festival ini menumbuhkan potensi lokal. Jadi kalau highlight-highlight masih dari Jakarta saya berharap justru musisinya dari Surabaya pun bisa menjadi highlight.

Terima kasih Pak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here