Gambang Kromong Modern Naga Sari – 25 Nonstop Gambang Kromong

0

JAKARTA

Type of Collection: CD
Artist/Group: Gambang Kromong Modern Naga Sari Pimpinan Ang Kang  Lan 
Album Title: 25 Nonstop Gambang Kromong
Origin: Jakarta
Language: Betawi
Year of Release: 2011
Label: Bravo Musik & Citra Suara Sahabat
Serial Number: No Data
Contributor: Museum Musik Indonesia

Reference Link :

Tracklist

No.Song TitleVocalNo.Song TitleVocal
1Jali-Jali Pasar IkanNurlela Dkk14Keramat KaramSanih Dkk
2Cente ManisSanih Dkk15SurilangSanih Dkk
3Stambul JampangEng Cuih Dkk16Jali-JaliNurlela Dkk
4Glatik Nguk NgukSanih Dkk17Onde-ondeNurlela Dkk
5Rokok KeretekNurlela Dkk18KudehelSanih Dkk
6Kicir-KicirNurlela Dkk19Sirih KuningSanih Dkk
7Caca MaricaSanih Dkk20Persi JalanSanih Dkk
8Dayung SampanSanih Dkk21Jepret PayungNurlela Dkk
9Kr.KemayoranSony Dkk22Siram KembangNurlela Dkk
10Tari SerimpiNurlela Dkk23Kacang BuncisSanih Dkk
11Kela-KelipSanih Dkk24Kue MangkokSanih Dkk
12Kopi SusuNurlela Dkk25Jali-Jali SiantanNurlela Dkk
13Lenggang KangkungEng Cuih Dkk   

Biography

Not many Gambang Kromong groups continue to take part in playing traditional music that was born and developed in the area around Jakarta. The emergence of modern music which is increasingly varied may be one of the contributing factors. Of the few groups that still survive is the Gambang Kromong Modern Naga Sari group, led by Ang Kan Lan. Its headquarters are on the outskirts of Jakarta, precisely in Jelupang Village, Serpong, Tangerang.


About Album

In 2011 the Gambang Kromong Modern Naga Sari Group published their recordings on CD. The album, entitled 25 Nonstop Gambang Kromong, was released by Bravo Musik & Citra Suara Sahabat. Contains 25 medley songs, most of which are known by the public, namely Kicir-kicir, Keroncong Kemayoran and Jali-jali. The four names of the singers who performed the songs were Nurlela, Eng Cuih, Sanih and Sony. Unfortunately, there is no written information on the names of the creators of the 25 songs.

Story

Gambang kromong is a type of orchestra that combines gamelan with Chinese musical instruments, such as sukong, tehyan, and kongahyan. It is estimated that this music was born and began to develop in Batavia land (Now Jakarta City) between 1730-1740. The name of Gambang Kromong is taken from the names of two percussion instruments, namely “The Gambang” and “The Kromong”.

Gambang blades consist of 18 pieces, usually made of suangking wood, huru batu, manggarawan or other types of wood that make a soft sound when hit. Kromong is usually made of bronze or iron, totaling 10 pieces (ten pencon). The scale used in the Gambang Kromong is the Chinese pentatonic scale, which is often called the Chinese salendro or salendro mandalungan. The instruments used consist of gambang, kromong, gongs, drums, flutes, kecrek, and sukong, tehyan, or kongahyan as melodic carriers.    

The songs that are performed on the Gambang Kromong music are songs that contain humor, joy, and sometimes ridicule or satire. The rendition of the song is sung in turns between men and women as opponents. Gambang kromong is Betawi music that is most evenly distributed in the Betawi cultural area, both in the DKI Jakarta area and in the surrounding area (Jabodetabek). If there are more resident of Chinese descent in the local Betawi community, there will also be more gambang kromong orchestra groups that appear. In North Jakarta and West Jakarta, for example, there are more gambang kromong groups than in South Jakarta and East Jakarta.

Along with the progress of the times, various Betawi arts are now beginning to be displaced due to the existence of modern art, so that traditional arts are becoming extinct and less attractive to the younger generation, who should preserve the culture of their ancestors. With various kinds of influences, including technological advances, Gambang Kromong actors must adapt to survive.

From the results of observations and research in the field, it can be stated that the Gambang Kromong musical group can still survive today, with the consequence that the offer to play is not as busy as in the 1970s. This is due to the emergence of many modern arts that are more varied, so that traditional arts are starting to be forgotten and also undergoing changes. So, the Gambang Kromong Music Group made changes that can be seen from the addition of musical instruments, the combination of songs sung, and the players consisting of children to the elderly. Then the “gambang kromong combination” or “modern gambang kromong” was born, namely the gambang kromong orchestra whose instruments are added or combined with modern western musical instruments such as guitar, bass, organ, saxophone, drums and so on. This resulted in a change from the pentatonic to diatonic barrel without reducing the distinctive sound of the gambang kromong itself. This development takes place naturally. The same step was taken by the Gambang Kromong Nagasari group.

Value

The development of the times is unavoidable. Gambang Kromong music is very open to social and economic changes in society, so the Gambang Kromong Modern was born. Gambang Kromong Modern can perform songs according to the wishes of the audience, such as dangdut, keroncong, pop, gambus or other types of music. The same concept should also apply to traditional music from other regions.

(Writer: Mansur Usman-Museum Musik Indonesia)

>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

Biography

Tidak banyak kelompok Gambang Kromong yang terus berkiprah memainkan musik tradisional yang lahir dan berkembang di wilayah sekitar Jakarta ini. Munculnya music modern yang makin bervariasi mungkin menjadi salah satu factor penyebabnya. Dari sedikit group yang masih bertahan adalah kelompok group Gambang Kromong Modern Naga Sari yang dipimpin oleh Ang Kan Lan. Markas besarnya berada di pinggiran Jakarta, tepatnya di Desa Jelupang Serpong Tangerang.

About Album

Pada tahun 2011 Group Gambang Kromong Modern Naga Sari menerbitkan rekamannya dalam bentuk CD. Album berjudul 25 Nonstop Gambang Kromong ini dirilis oleh Bravo Musik & Citra Suara Sahabat. Memuat 25 lagu medley yang sebagian besar telah dikenal oleh masyarakat yaitu antara lain Kicir-kicir, Keroncong Kemayoran dan Jali-jali. Empat nama penyanyi yang membawakan lagu-lagu tersebut adalah Nurlela, Eng Cuih, Sanih dan Sony. Sayang tidak tertulis informasi siapa nama-nama pencipta 25 lagu tersebut.

Story

Gambang kromong adalah sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dan kongahyan. Diperkirakan musik ini lahir dan mulai berkembang di tanah Betawi antara tahun 1730-1740. Sebutan gambang kromong diambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang dan kromong.

Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasanya terbuat dari kayu suangkinghuru batumanggarawan atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh pencon). Tangga nada yang digunakan dalam gambang kromong adalah tangga nada pentatonik Cina, yang sering disebut salendro Cina atau salendro mandalungan. Instrumen yang digunakan terdiri atas gambang, kromong, gong, gendang, suling, kecrek, dan sukong, tehyan, atau kongahyan sebagai pembawa melodi.

Lagu-lagu yang dibawakan pada musik gambang kromong adalah lagu-lagu yang isinya bersifat humor, penuh gembira, dan kadang kala bersifat ejekan atau sindiran. Pembawaan lagunya dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuan sebagai lawannya. Gambang kromong merupakan musik Betawi yang paling merata penyebarannya di wilayah budaya Betawi, baik di wilayah DKI Jakarta sendiri maupun di daerah sekitarnya (Jabodetabek). Jika terdapat lebih banyak penduduk peranakan Tionghoa dalam masyarakat Betawi setempat , terdapat lebih banyak pula grup-grup orkes gambang kromong. Di Jakarta Utara dan Jakarta Barat, misalnya, terdapat lebih banyak jumlah grup gambang kromong dibandingkan dengan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.

Seiring kemajuan zaman, beragam kesenian Betawi kini mulai tergeser karena keberadaan kesenian modern, sehingga kesenian-kesenian tradisional mulai punah dan kurang dilirik oleh generasi muda, yang seharusnya melestarikan kebudayaan nenek moyangnya. Dengan adanya berbagai macam pengaruh, termasuk seperti kemajuan teknologi, maka pelaku Gambang Kromong harus melakukan adaptasi untuk tetap bertahan.

Dari hasil pengamatan dan penelitian di lapangan, maka dapat dinyatakan bahwa kelompok musik Gambang Kromong masih dapat bertahan hingga saat ini, dengan konsekuensi tawaran bermain tidak seramai di tahun 1970-an. Hal ini dikarenakan banyak munculnya kesenian modern yang lebih bervariasi, sehingga kesenian tradisional mulai terlupakan dan juga mengalami perubahan. Maka, Kelompok Musik Gambang Kromong melakukan perubahan yang dapat dilihat dari, adanya penambahan alat-alat musik, adanya pengkombinasian lagu-lagu yang dinyanyikan, dan pemainnya yang terdiri dari anak-anak sampai orang tua. Lalu lahirlah “gambang kromong kombinasi” atau “gambang kromong modern”, yaitu orkes gambang kromong yang alat-alatnya ditambah atau dikombinasikan dengan alat-alat musik barat modern seperti gitar, bas, organ, saksofon, drum dan sebagainya. Hal ini mengakibatkan terjadinya perubahan dari laras pentatonik menjadi diatonik tanpa mengurangi kekhasan suara gambang kromong sendiri. Perkembangan ini berlangsung secara wajar dan tidak dipaksakan. Langkah yang sama dilakukan oleh kelompok Gambang Kromong Nagasari ini.

Value

Perkembangan zaman tak bisa dihindari. Musik Gambang Kromong sangat terbuka menerima perubahan sosial ekonomi masyarakat, sehingga lahirlah Gambang Kromong Kombinasi atau Gambang Kromong Modern. Gambang Kromong Kombinasi dapat membawakan lagu-lagu sesuai keinginan penonton seperti jenis lagu dangdut, keroncong, pop, gambus atau jenis musik lainnya. Konsep yang sama seharusnya juga berlaku untuk musik-musik tradisi dari daerah yang lain.

(Writer: Mansur Usman-Museum Musik Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here