[KLIPING MEDIA] Hari Musik Nasional

0

Dokumentasi foto: Anang Maret Tri Basuki & Ari Yusuf Prasetyo

==============================

============================

TimesIndonesia: Memaknai Hari Musik Nasional, Bangkitkan Lagi Kejayaan Barometer Musik di Kota Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Kota Malang yang dianggap sebagai barometer musik Nasional setelah Kota Bandung, nampaknya saat ini stigma tersebut sudah mulai memudar.

Bertepatan dengan hari kelahiran pencipta lagu kebangsaan Indonesia, Woge Rudolf Soepratman yang telah ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional, Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edy Jarwoko mengunjungi Museum Musik Indonesia (MMI) Kota Malang.

Dalam kunjungannya, ia melihat berbagai alat musik bersejarah hingga rilisan-rilisan fisik di era keemasan rock di Kota Malang pada waktu itu.

MMI sendiri memiliki lebih dari 40 ribu koleksi rekaman sebagai catatan perkembangan musik tanah air. Bahkan, terdapat juga catatan kejayaan musik rock Kota Malang yang kini dianggap telah memudar.

Pria yang akrab disapa Bung Edi mengakui bahwa di era keemasan musik, khususnya genre rock membawa Kota Malang menempati urutan kedua sebagai barometer musik nasional.

“Kota Malang pernah dijadikan barometer musik rock tanah air. Saat itu seluruh stakeholder musik rock di Malang ini memberikan dukungan. Musisinya memberika karya terbaik dan penggemarnya punya penilaian musik yang sangat bagus,” ujar Bung Edi, Rabu (9/3/2022).

Ia menceritakan, kejayaan musik rock Kota Malang, ditandai dengan sejarah lokasi gelaran musik yang sangat ikonik, yakni Pulosari bawah tanah. Bung Edi menyebutkan, kala itu di era Pulosari bawah tanah, musisi atau grub band nasional saat tampil di Kota Malang, bisa menjadi tolok ukur kesuksesannya.

Hal itu karena, jika warga Kota Malang saat melihat pertunjukan musisi tersebut dianggap jelek, dipastikan kiprah musik grup band atau musisi tersebut tak akan dipandang secara nasional.

“Grup band ketika tampil di Malang dan diterima baik oleh masyarakat Malang, biasanya ditempat lain juga akan sukses. Tetapi tidak sedikit musisi yang dinilai kurang baik di Malang, dia tidak berkembang di tempat lain. Karena selera masyarakat Malang saat itu sangat tinggi,” ungkapnya.

Di moment hari musik nasional ini, Bung Edi berharap kiprah kejayaan Kota Malang sebagai barometer musik nasional bisa kembali terangkat.

“Maka dari itu, kita sebagai pemerintah terus berupaya memberi ruang bagi para musisi lokal (Kota Malang). Seperti Kayutangan kita beri ruang ekspresi di sana, meski saat ini masih pandemi (Covid-19). Kita harap ini bisa kembali kita raih (barometer musik nasional),” katanya.

Sementara itu, Pendiri MMI Kota Malang, Hengki Herwanto menilai saat ini dunia permusikan di Kota Malang memang sedang memudar. Apalagi, sebenarnya saat ini banyak sekali musisi lokal yang mempunyai jam terbang tinggi tapi minim dilirik. Hal itu yang sebenarnya ia sayangkan.

“Banyak musisi dengan kiprah luar biasa di kancah internasional, tapi di Kota Malang sendiri kurang. Misalnya Nova Ruth yang sudah pernah tampil di 5 benua. Sebelum pandemi, dia bisa tampil di 100 pentas musik di berbagai negara,” bebernya.

Selanjutnya ada Wukir Suryadi yang pernah menciptakan instrumen musik dengan bambu. Bahkan Sylvia Saartje, rocker perempuan pertama yang tenar di Indonesia lahir di Kota Malang. “Jadi sebenarnya kualitas musik di Kota Malang ini luar biasa. Namun, saat ini sudah mulai memudar,” imbuhnya.

Di sisi lain, Hengki juga berharap kepada Pemerintah Kota Malang untuk bisa mendorong siswa-siswi atau pelajar untuk dapat berkunjung ke Museum Musik Indonesia.

Selain menambah wawasan, juga bisa menggeliatkan ekonomi yang selama ini dibangun Kota Malang. “Rencana para pelajar untuk diwajibkan ke MMI ini bagus. Kita sambut baik. Semoga itu terealisasi dan kita siap wadahi,” tandasnya. (*)

Sumber: Memaknai Hari Musik Nasional, Bangkitkan Lagi Kejayaan Barometer Musik di Kota Malang | TIMES Indonesia – AMP

TuguJatim.id: Kilas Balik Kejayaan Musisi Kota Malang di Hari Musik Nasional

Tugujatim.id –  9 Maret yang bertepatan dengan kelahiran Woge Rudolf Soepratman (9/3/1903 ), pencipta lagu kebangsaan Indonesia, telah ditetapkan sebagai Hari Musik Nasional. Untuk memperingati hari istimewa ini musisi lokal menampilkan pertunjukan musik di Museum Musik Indonesia (MMI) Kota Malang, Rabu (9/3/2022).

Museum ini telah memiliki lebih dari 40 ribu koleksi rekaman dan telah mencatat perkembangan musik tanah air. Bahkan, juga terdapat catatan kejayaan hingga meredupnya musik rock di Kota Malang.

Sofyan Edi Jarwoko, Wakil Wali Kota Malang, yang ikut merayakan Hari Musik Nasional di MMI Kota Malang mengatakan bahwa Kota Malang pernah menjadi barometer musik rock nasional. Untuk itu, Sofyan menilai MMI Kota Malang yang mengoleksi jejak musik tanah air ini merupakan aset berharga bagi Kota Dingin ini.

“Kota Malang pernah dijadikan barometer musik rock tanah air. Saat itu seluruh stakeholder musik rock di Malang ini memberikan dukungan. Musisinya memberikan karya terbaik dan penggemarnya punya penilaian musik yang sangat bagus,” tuturnya.

Hal itu terbukti dengan kesuksesan atau meredupnya musisi rock saat itu. Disebutkan, mayoritas grup band yang bisa tampil dan diterima masyarakat Malang Raya akan bersinar di tempat lain. Hal itu juga berlaku sebaliknya, jika tak memuaskan di Malang maka kebanyakan akan meredup.

“Grub band ketika tampil di Malang dan diterima baik oleh masyarakat Malang, biasanya di tempat lain juga akan sukses. Tetapi tidak sedikit musisi yang dinilai kurang baik di Malang, dia tidak berkembang di tempat lain. Karena selera masyarakat Malang saat itu sangat tinggi,” bebernya.

Jika penampilan group band cukup memuaskan publik Malang, maka pergelaran musik akan berjalan dengan aman. Namun jika tak memuaskan, botol minuman akan melayang ke arah musisi.

Sementara itu, Hengki Herwanto, pendiri MMI Kota Malang, menilai saat ini dunia permusikan di Kota Malang mulai meredup.

“Banyak musisi dengan kiprah luar biasa di kancah internasional, tapi di Kota Malang sendiri kurang dikenal. Misalnya Nova Ruth yang sudah pernah tampil di 5 benua. Sebelum pandemi, dia bisa tampil di 100 pentas musik di berbagai negara,” bebernya.

Kemudian ada Wukir Suryadi yang juga memiliki kiprah hampir sama dengan Nova Ruth. Dia juga pernah menciptakan instrumen musik dengan bambu. Bahkan Sylvia Saartje, rocker perempuan pertama yang tenar di Indonesia lahir di Kota Malang.

“Jadi sebenarnya, kualitas musik di Kota Malang ini luar biasa. Namun saat ini sudah mulai memudar,” ungkapnya.

Pecinta musik Malang Raya, bebernya, rela menjual celananya untuk membeli tiket pentas musik. Hal itu terjadi pada era keemasan musik rock di Malang. Namun ketika mereka tak puas dengan penampilan musisinya, mereka akan melempar sesuatu kepada musisi itu.

“Hal itu menggambarkan betapa cintanya untuk mengharap sajian musik bermutu. Makanya jika ada sajian musik yang gak bagus akan dilempari,” imbuhnya.

Kini Hengki berharap Pemerintah Kota Malang bisa mendorong siswa siswa di Kota Malang untuk diwajibkan berkunjung di museum museum di Kota Malang. Selain menambah wawasan, hal itu bisa menggeliatkan perekonomian museum di Kota Malang.

Sumber: Kilas Balik Kejayaan Musisi Kota Malang di Hari Musik Nasional (tugujatim.id)

Kliktimes: Hari Musik Nasional, Wakil Wali Kota Malang Terharu Saat Kunjungi Museum Musik Indonesia

KLIKTIMES.COM-KOTA MALANG- Hari Musik Nasional yang jatuh pada 9 Maret diperingati di berbagai daerah. Di Kota Malang, Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko hadir langsung ke Museum Musik Indonesia (MMI) yang berada di Jalan Nusakambangan.

Kedatangan Sofyan Edi Jarwoko disambut oleh Ketua Museum Musik Indonesia, Hengky Herwanto dan lantunan musik dari band asal Tumpang, Kabupaten Malang, Panji Laras Svara.

Dalam kesempatan tersebut, Sofyan Edi Jarwoko menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para musisi serta pengurus Museum Musik Indonesia. Menurut Sofyan Edi, peringatan Hari Musik Nasional kali ini menjadi pengingat bagi generasi muda bahwa Malang pernah menjadi barometer musik nasional, terlebih aliran musik rock

“Bahwa momentum kali ini saya ingin mengingatkan bahwasanya dulu Kota Malang pernah menjadi barometer musik nasional, terutama musik rock. Itu artinya sebuah capaian besar,” ungkap Sofyan Edi Jarwoko kepada kliktimes.com, Rabu (09/03/22).

Sofyan Edi Jarwoko juga masih ingat saat muda dulu, pecinta musik rock di Malang dinilai sangat kritis. Kesuksesan memberi hiburan bagi penonton konser di Malang menjadi ukuran sukses tidaknya sebuah band di daerah lain.

“Di Malang memang ada anak-anak yang pintar main musik hingga ke tingkat nasional. Namun para pecinta musik rock di Malang seleranya sangat tinggi. Jika ada yang main di Malang dan didengarkan tidak enak, pasti akan ada respon seperti lemparan,”kata Sofyan Edi dengan tertawa.

Teteskan Air Mata

Setelah bercerita soal barometer musik nasional, tiba-tiba Sofyan Edi Jarwoko meneteskan air mata. Hal itu terjadi saat dirinya memberi komentar terhadap para pengelola Museum Musik Indonesia.

“Saya kira museum ini sungguh sesuatu yang sangat mewah dan sangat mahal, saya sangat berterima kasih kepada Pak Hengky dan kawan-kawan,” ujar politisi Golkar itu.

Sofyan Edi Jarwoko mengaku tersentuh atas dedikasi para pengurus museum yang sangat luar biasa. Terlebih, merawat koleksi-koleksi musik dari tanah air maupun dari luar negeri bukan hal yang mudah.

“Orang mungkin melihat museum ini sangat sederhana, tapi musik ini tidak bisa mundur. Walaupun ditempatkan di tempat yang sangat sederhana. Intinya saya sangat bersyukur punya teman-teman yang kopen (merawat koleksi museum). Sulit saya berkata-kata, saya mohon maaf saya belum bisa berbuat banyak,” tutup Sofyan Edi Jarwoko dengan meneteskan air mata. (Yna/Ell)

Sumber: Hari Musik Nasional, Wakil Wali Kota Malang Terharu Saat Kunjungi Museum Musik Indonesia – KlikTimes

Memontum: Peringati Hari Musik Nasional, Wawali Kota Malang Apresiasi Museum Musik Indonesia

Memontum Kota Malang – Peringati Hari Musik Nasional, Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, mengapresiasi Museum Musik Indonesia (MMI) di Jalan Nusa Kambangan, Kota Malang, Rabu (09/03/2022).

Menurutnya, Museum Musik merupakan sesuatu yang sangat mewah dan sangat mahal dalam nilai sejarahnya. “Terima kasih, hari ini merupakan momen yang sangat pas, dan sangat bersyukur punya teman yang menjaga aset ini,” ujar Sofyan, Rabu (09/03/2022).

Dirinya juga mengatakan, dengan diperingati Hari Musik Nasional, bisa bersilaturahmi dengan membangun kembali, mengingatkan kembali, bahwa Kota Malang pernah menjadi barometer musik rock di tanah air Indonesia.

“Sebuah capaian yang besar bisa dikatakan barometer itu, dan secara luas barometer itu diartikan. Saat itu seluruh stakeholder musik rock di Malang ini memberikan dukungan. Musisinya memberikan karya terbaik dan penggemarnya punya penilaian musik yang sangat bagus,” tambahnya.

Walaupun MMI merupakan aset yang ternilai dan mewah, dirinya tidak bisa berbuat banyak. Atas nama pemerintahan dirinya meminta maaf, lantaran MMI masih berada ditempat yang sederhana. “Harusnya bisa ditempatkan yang lebih bagus lagi, agar masyarakat yang datang juga merasa senang dan mendukung aset-aset pemerintah,” ucapnya.

Ketua MMI Kota Malang, Hengki Herawanto, berharap kedepan akan ada mata pelajaran yang mewajibkan siswa-siswa sekolah untuk datang ke museum. Menurutnya, agar bisa tetap dilestarikan dan tidak lupa akan sejarah-sejarah musik terdahulu. “Harapannya nanti, siswa setahun sekali aja berkunjung kesini ya, agar mereka tau bahwa ada Museum Musik ini, mereka bisa tau sejarah musik-musik dulu,” ujar Hengki. (cw2/gie)

Sumber: https://memontum.com/peringati-hari-musik-nasional-wawali-kota-malang-apresiasi-museum-musik-indonesia#ixzz7N5r2Vt9

InfoPublik: Peringati Hari Musik Nasional, Bung Edi Gayeng Berdialog dengan Musisi

Malang, InfoPublik – Bertepatan dengan Hari Musik Nasional yang diperingati setiap tanggal 9 Maret, Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko mengunjungi Museum Musik Indonesia, Rabu (9/3/2022).

Di museum musik yang digadang-gadang sebagai museum musik pertama di Indonesia ini, Bung Edi sapaan Sofyan Edi Jarwoko, tak hanya merayakan Hari Musik Nasional secara seremonial. Di tempat ini, Bung Edi gayeng berdialog dengan beberapa musisi lokal Malang Raya.

“Ini momen yang pas karena. hari ini Hari Musik Nasional. Tepat hari lahir pencipta lagu Indonesia Raya, WR. Soepratman. Semalam saya teringat ini 9 Maret, saya ingin bersama teman-teman, jagongan (berdialog) di sini dan silaturahmi di sini,” tutur Bung Edi.

Bung Edi menuturkan, Kota Malang yang pernah menjadi barometer musik rock di tanah air. “Saya ingin membangun dan mengingatkan kembali bahwa Malang pernah menjadi barometer musik rock di Indonesia. Itu artinya sebuah capaian yang besar. Dikatakan barometer, karena menjadi alat ukur. Kalau istilahnya zaman sekarang, sudah terbangun ekosistem yaitu komunitas musik rock, pecinta musik rock, penyelenggara (pagelaran) musik, sponsor dan lain sebagainya, termasuk pemerintahnya” jelasnya.

Tidak hanya itu, Bung Edi memberikan apresiasi sekaligus penghargaan kepada Museum Musik Indonesia Kota Malang. “Museum ini sungguh sesuatu yang sangat mewah dan mahal. Dalam arti value, history, dan story saya terima kasih. Saya bersyukur punya teman-teman di sini yang open (merawat) terima kasih,” pungkasnya.

Sementara itu, Hengki Herwanto, penggagas berdirinya Museum Musik Indonesia menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran Bung Edi untuk bersama-sama merayakan Hari Musik Nasional di Museum Musik Indonesia.

“Terima kasih Pak Edi sudah berkenan bergabung bersama kami di Museum Musik Indonesia. Kami undang juga beberapa musisi dari Kota Malang bisa turut berperan memajukan kebudayaan Indonesia dan berperan meningkatkan indeks kebudayaan Kota Malang,” tutupnya.

Hengki juga mengungkapkan harapannya, Pemkot Malang dapat membantu keberlangsungan museum dengan membuat kebijakan wajib kunjung museum, terutama bagi para pelajar. Selain itu, beberapa musisi juga berharap dukungan Pemkot Malang terhadap musik dan musisi lokal, salah satunya dengan adanya platform digital untuk mengunggah dan mengunduh karya musik lokal.

Hadir dalam kesempatan ini beberapa musisi asal Malang. Kegiatan ini semakin meriah dengan tampilnya grup musik Panji Laras Svara dengan tembang-tembang yang menyejukkan hati. (ari/ram)

Sumber: InfoPublik – Peringati Hari Musik Nasional, Bung Edi Gayeng Berdialog dengan Musisi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here