Mengenal Lebih Dekat Musik Tradisional Betawi; Gambang Kromong

0

Oleh: Maria Dessy Fitriani, Mahasiswi Universitas Brawijaya Angkatan 2019

Maria Dessy Fitriani merupakan salah satu dari mahasiswi Prodi Antropologi Fakultas Ilmu Budaya dari Universitas Brawijaya yang sedang menempuh semester 6. Ia mengikuti program KKN-M atau Kuliah Kerja Nyata Magang di instansi Museum Musik Indonesia. Artikel Gambang Kromong ini menjadi salah satu tugas yang dikerjakan selama magang berlangsung

Gambang Kromong menjadi salah satu orkes tradisional Betawi yang banyak dipengaruhi oleh budaya Cina. Kesenian yang dilahirkan oleh suku Betawi antara lain adalah keroncong Tugu, orkes Rebana, musik Gambus, Lenong dan Wayang Topeng. Salah satu juga kesenian yang hadir di kalangan masyarakat Betawi yaitu Gambang Kromong yang mulai dikenal pada tahun 1880 di saat Bek Teng Tjoe atau seorang kepala wilayah pada saat itu menampilkan musik Gambang Kromong untuk menyambut para tamu. Asal muasal suku Betawi dimulai dari masa penjajahan di Batavia atau yang sekarang dikenal dengan Jakarta terjadi percampuran budaya dari luar negeri maupun luar daerah yang mediami Batavia sehingga menjadikan suatu kelompok etnis dengan ciri khasnya yang dinamakan Betawi. Musik Gambang Kromong muncul di kalangan Cina Benteng yakni peranakan etnis Tionghoa dan Betawi yang berada di Batavia dan sekitar daerah pinggiran Tangerang. Di Museum Musik Indonesia sendiri memiliki beberapa koleksi rilisan fisik musik Gambang Kromong seperti terdapat compact disk, kaset pita dan lainnya. Seperti yang terdapat di bawah ini yaitu compact disk berisikan 25 lagu Betawi yang diiringi oleh musik Gambang Kromong.

Gambang merupakan salah satu dari instrumen pukul dengan bilah-bilah kayu berjumlah 18 buah di seperangkat gamelan Jawa, sedangkan Kromong yaitu instrumen pukul terbuat dari logam yang bentuknya mirip dengan bonang Jawa. Sedangkan Kesenian gambang kromong menjadi sebuah permainan ansambel musik yang yang terdiri dari Gambang, Kromong, Kongahyan, Tehyan, Sukong, Ningnong, Jutao, Kecrek, Suling/Basing, Gendang, Kempul, dan Gong. Tehyan merupakan instrumen gesek yang ikonik dari Gambang Kromong dan masih dipergunakan oleh masyarakat Betawi dalam mengiringi teater Lenong, Lagu-lagu yang dimainkan oleh musik Gambang Kromong adalah lagu yang bersifat gembira, penuh dengan humor juga pantun. Ada tiga jenis lagu yang sering dibawakan oleh musik Gambang Kromong yaitu lagu pobin, lagu dalem dan lagu sayur.

Lagu pobin merupakan lagu klasik gambang kromong di mana ada yang berisi instrumental saja dan ada juga yang terdapat syair. Lagu pobin yang hanya berisikan instrumentalia seperti Pobin Kong Ji Liok dan yang memiliki syair seperti Pobin Mas Nona. Selanjutnya, lagu dalem yang diiringi gambang kromong berisikan syair ataupun pantun seperti lagu Tanjung Burung, Kampung Melayu atau Jali-jali Kacang Buncis. Lagu yang diiringi Gambang Kromong juga adalah lagu sayur di mana lagu ini merupakan lagu modern yang ada dalam orkes Gambang Kromong. Lagu ini diawali dengan pantun yang menjadi ciri khas musik pembukanya dan syair yang terdapat di lirik lagunya tidak baku seperti Kincir-kincir, Ondel-ondel, Jali-jali dan Surilang.

Gambang Kromong menjadi perpaduan antara beberapa budaya yang terlihat dari instrumennya seperti instrumen gesek dan tiup dari Cina, instrumen Gendang dari Sunda dan instrumen Gambang, Kromong, Kempul, Kecrek dan Gong dari Jawa. Musik Gambang Kromong memiliki dua jenis yaitu tempo dulu dan modern. Gambang Kromong jenis tempo dulu digunakan untuk membawakan lagu-lagu Cina dan hanya dinikmati oleh kaum Cina Benteng terutama saat ada perayaan pernikahan. Seiring dengan bergantinya zaman, musik Gambang Kromong masuk ke jenis modern yang mulai digunakan untuk mengiringi teater Lenong dan lagu yang dibawakan juga dipadukan dengan budaya Arab dan Barat yang terlihat dari rebab dan gitar. Yang awalnya musik Gambang Kromong hanya dinikmati oleh kaum Cina Benteng, kemudian berkembang hingga musik ini dapat ditampilkan pada perayaan lainnya seperti perayaan hajatan, Cap Gomeh, ulang tahun Kota Jakarta dan sebagainya.

Musik gambang kromong semakin dikenal oleh masyarakat luas berkat seniman Betawi yakni Benyamin Sueb. Di tahun 1970an, Benyamin mengangkat kesenian gambang kromong dengan memadukan dengan musik luar seperti Rock dan Blues yang sedang beken pada saat itu. Tidak hanya memadukan dengan musik luar, Benyamin juga memasukan alat musik modern seperti organ, gitar listrik dan bass ke dalam musik Gambang Kromong. Dibantu dengan berduet oleh Ida Royani dan Rita Zahara, karir musik Benyamin Sueb menjadi melejit. Di dalam Museum Musik Indonesia tersedia pula album dari Benyamin Sueb yang berisikan koleksi lagu yang ia pernah bawakan yang dikenal hingga sekarang. Saat ini, musik Gambang Kromong mengikuti perkembangan zaman yang semakin modern dengan dipadukan saksofon serta drum sehingga dapat membawakan musik dangdut, pop juga gambus. Seniman Gambang Kromong yang saat ini masih terkenal yaitu Suryahanda yakni pemimpin rombongan “Naga Mustika”. Ada kelompok musik yang masih mempertahankan kesenian Gambang Kromong yakni Mustika Forkabi. Forkabi merupakan singkatan dari Forum Komunikasi Anak Betawi di mana mereka ingin melestarikan kesenian budaya Betawi dengan membuat kelompok musik.

Kesimpulan

Dari satu generasi ke generasi lain pasti selalu terdapat perubahan termasuk pada orkes kesenian Gambang Kromong. Seperti dalam alat musiknya yang menjadi perpaduan antara Cina, Betawi, Arab dan Barat. Tidak hanya itu saja, awalnya musik Gambang Kromong hanya dinikmati oleh orang Cina Benteng, tetapi semakin ke sini semakin memperluas para penikmat musiknya tanpa melihat golongan tertentu. Meskipun memiliki banyak percampuran budaya maupun perluasan pada penikmatnya yang membuat banyak perubahan ke dalam musik Gambang Kromong ini tidak menghambat masyarakat Betawi untuk tetap mempertahankan eksistensinya. Seperti pada pemain dalam kelompok musik Mustika Forkabi yang senantiasa turut ikut melestarikan kebudayaan dan kesenian Betawi.

Referensi

Soekotjo. 2012. Musik Gambang Dalam Masyarakat Betawi Di Jakarta. Jurnal Etnomusikologi Indonesia. Vol. 1 No. 1. Yogyakarta.

Hasanah, Rizkiyah. 2012. Startegi Adaptasi Kelompok Musik Gambang Kromong Dalam Menghadapi Perubahan Sosial. Skripsi. Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah

Faris, Naufal. Gunawan, Rudy & Qodariah, Lelly. 2019. Peran Benyamin Suaeb Dalam Modernisasi Kesenian Gambang Kromong Di Jakarta Tahun 1970 – 1975. Chronologia; Journal of History Education vol 1 no. 2. Hal 12 – 32.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here