Value Sebuah Piringan Hitam

0

Beberapa piringan hitam (PH) atau vinyl yang banyak diburu oleh kolektor al dari Group White Shoes ATCC, deMasiv, SID, The Sigit, Mocca dsb. Utk yang era 70an ada nama Guruh Gipsy, Harry Roesli, AKA dan juga Dara Puspita.

Cukup banyak PH Dara Puspita ditawarkan lewat on line Tokopedia, Bukalapak, Shopee atau lewat medsos Fb, Twitter, IG dll. Dari data yang berhasil dihimpun, PH Dara Puspita ditawarkan dg harga mulai Rp 600 ribu sampai Rp 2,5 juta per keping. Rata2nya sekitar Rp 1 juta. Ada pula penawaran Rp 400 ribu tapi polos tanpa cover. Padahal cover merupakan atribut penting dari sebuah PH.

Untuk pasar internasional lewat platform Discogg, PH Darpus ditawarkan mulai harga 51 sampai 138 US $. Dengan kurs Rp 15 ribu, hasilnya mendekati harga pasar dalam negeri.

Survey yg sama bisa dilakukan untuk band2 atau penyanyi lain. Selain Format PH ada pula format kaset dan CD. Dari situ bisa ditaksir berapa nilai pasar dari masing2. Banyak parameter yg menjadi dasar penawaran dari pihak penjual.

Pendekatan yg sama bukan tak mungkin diterapkan untuk menaksir koleksi museum musik. Bila jumlah koleksi ada 45.000 buah dg taksiran harga rata2 Rp 100 ribu maka nilai aset koleksi museum adalah sebesar Rp 4,5 miliar.

Problemnya, nilai sebuah koleksi tidak serta-merta bisa dibuat rata2. Ada piringan hitam yg nilai pasarnya Rp 2 juta, namun ada juga kaset yg nilainya cuma Rp 1.000,-. Ini taksiran nilai untuk rekaman yg minim informasi. Yaitu rekaman yang nama artisnya kurang dikenal dan tdk jelas asal usulnya, lagu2nya tidak dilengkapi nama pencipta, tidak ada info tahun rilis, tidak ada label, tidak ada nomor seri produksi dan sebagainya. Bagi museum atribut2 tsb sangat penting untuk membuat story telling dari sebuah koleksi sehingga memiliki value.

Perlu sebuah keahlian khusus untuk bisa menaksir produk karya seni, khususnya seni musik. (HHW)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here