Australia Larang Lagu AI Masuk Chart, ARIA Wajibkan Karya Utamanya Buatan Manusia Industri musik Australia mengambil langkah tegas menghadapi perkembangan lagu yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan. Australian Recording Industry Association atau ARIA resmi mengubah aturan chart sehingga rekaman yang seluruhnya atau sebagian utama dibuat oleh AI generatif tidak lagi memenuhi syarat masuk daftar musik resmi Australia.
Aturan baru mulai berlaku pada ARIA Chart bertanggal 31 Agustus 2026 yang diterbitkan pada Jumat, 28 Agustus. Meski kerap disebut sebagai larangan lagu AI, aturan tersebut sebenarnya tidak menutup penggunaan kecerdasan buatan sepenuhnya. Musisi masih boleh menggunakan AI sebagai alat pendukung selama inti karya tetap dibuat dan dibawakan manusia.
Keputusan tersebut muncul setelah industri musik Australia menghadapi perdebatan besar mengenai lagu yang menggunakan vokal dan instrumen hasil AI. Salah satu kasus paling banyak dibicarakan berkaitan dengan versi Like a Prayer yang dirilis produser Queensland Josh Fawaz. Lagu tersebut sempat menjadi lagu paling banyak diputar di radio Australia dan mencapai posisi keempat pada dua chart ARIA pada Juli.
ARIA Tidak Melarang Seluruh Penggunaan AI
Perubahan paling penting dalam aturan ARIA berada pada pemisahan antara lagu yang dihasilkan AI dan lagu yang hanya dibantu AI.
ARIA menjelaskan rekaman yang dibuat oleh manusia tetap dapat masuk chart meskipun menggunakan teknologi AI generatif untuk beberapa bagian kecil. Persyaratan utamanya adalah karya tersebut harus secara substansial dibuat manusia serta tidak menimbulkan persoalan terkait manipulasi streaming atau posisi chart.
Artinya, seorang penyanyi masih diperbolehkan menggunakan teknologi tertentu untuk menambahkan vokal latar, efek suara, atau elemen tambahan selama vokal utama serta unsur musikal pokok tetap dilakukan manusia.
ARIA menyebut kategori tersebut sebagai AI assisted.
Sebaliknya, rekaman akan masuk kategori AI generated apabila AI menghasilkan seluruh bagian kreatif atau memegang peran utama dalam bagian tersebut. Lagu yang dibuat hanya melalui perintah teks tanpa penampilan manusia termasuk dalam kategori yang tidak memenuhi syarat.
Perbedaan ini membuat aturan Australia lebih terarah daripada sekadar mengatakan bahwa setiap lagu yang menyentuh AI otomatis dilarang.
Vokal Utama Buatan AI Bisa Membuat Lagu Gugur
ARIA memberikan contoh yang cukup jelas mengenai batas antara penggunaan AI yang masih diterima dan yang tidak.
Apabila vokal utama sebuah lagu dihasilkan AI, rekaman tersebut tidak memenuhi syarat masuk ARIA Charts. Hal serupa berlaku bila permainan instrumen utama diciptakan oleh sistem AI generatif.
Sebaliknya, seorang penyanyi manusia masih dapat menggunakan vokal latar yang dibuat AI tanpa langsung kehilangan kelayakan.
Contoh lain adalah penggunaan AI untuk mastering, pemisahan stem, drum machine, reverb, atau patch instrumen yang kemudian dimainkan manusia. ARIA mengategorikan penggunaan semacam itu sebagai bagian dari proses produksi yang diperbolehkan.
Batas tersebut menunjukkan ARIA mencoba menjaga ruang penggunaan teknologi modern tanpa menghapus posisi manusia sebagai pelaku utama rekaman.
Penerapan aturan akan dilakukan berdasarkan setiap lagu secara individual. Tidak seluruh proses dapat diselesaikan hanya dengan satu formula karena tingkat keterlibatan AI dapat berbeda antara satu produksi dengan produksi lainnya.
Kontroversi Like a Prayer Mempercepat Perdebatan
Perhatian terhadap aturan AI membesar setelah versi Like a Prayer milik Josh Fawaz mendapatkan popularitas tinggi di Australia.
Lagu tersebut menjadi lagu paling banyak diputar di radio Australia dan berada pada posisi keempat di dua chart ARIA pada Juli 2026. Setelah muncul pertanyaan mengenai proses produksinya, informasi pada Spotify kemudian diperbarui untuk menyebut vokal serta drum dibuat menggunakan AI.
Fawaz sebelumnya mengatakan dirinya menggunakan AI sebagai alat dalam proses produksi.
Kasus tersebut memicu pertanyaan tentang apakah sebuah lagu dengan unsur utama yang dibuat sistem generatif selayaknya bersaing dalam daftar yang selama puluhan tahun digunakan untuk mengukur keberhasilan musisi.
ARIA tidak secara khusus menyatakan aturan baru dibuat hanya karena satu lagu. Organisasi tersebut menyesuaikan kebijakannya dengan prinsip internasional yang dikembangkan IFPI.
Namun, kemunculan lagu tersebut pada posisi tinggi membuat persoalan yang sebelumnya terasa teoritis berubah menjadi persoalan yang langsung terlihat dalam chart.
“Menurut penulis, perdebatan berubah ketika karya berbasis AI bukan lagi sekadar eksperimen internet, tetapi mulai mengambil posisi yang sama dengan musisi manusia dalam ukuran keberhasilan komersial.”
Lagu Harus Secara Substansial Dibuat Manusia
Frasa yang menjadi pusat aturan baru adalah substantially human made atau secara substansial dibuat manusia.
ARIA menjelaskan manusia harus menjadi penggerak utama proses kreatif. Penilaian dilakukan berdasarkan fakta pada masing masing rekaman.
Batas ini sengaja tidak dibuat berdasarkan persentase sederhana seperti 50 persen atau 70 persen.
Produksi musik mempunyai struktur yang terlalu beragam untuk dinilai hanya melalui hitungan durasi.
Vokal utama, misalnya, dapat menjadi bagian paling penting meskipun secara teknis tidak memenuhi sebagian besar durasi rekaman. Karena itu, vokal utama buatan AI sudah cukup membuat sebuah karya dianggap berada dalam kategori AI generated.
Hal yang sama berlaku terhadap instrumen utama yang menjadi fondasi lagu.
Sementara proses teknis seperti mastering AI tidak membuat sebuah lagu kehilangan status buatan manusia karena teknologi hanya digunakan untuk membantu tahap produksi setelah unsur kreatif utamanya dikerjakan manusia.
Musisi Wajib Mengungkap Penggunaan AI
ARIA tidak hanya mengandalkan pemeriksaan setelah sebuah lagu viral.
Setiap rilisan yang diajukan ke survei ARIA kini harus menjawab pertanyaan mengenai penggunaan kecerdasan buatan generatif. Pemilik hak atau pihak yang mengirim karya diminta memberikan informasi secara akurat.
ARIA akan menggunakan deklarasi tersebut sebagai dasar awal menentukan kelayakan.
Apabila muncul laporan atau keraguan yang dianggap kredibel, organisasi tersebut dapat meminta informasi tambahan kepada pemilik hak.
Prosedur ini membuat label musik, distributor, serta artis independen memiliki tanggung jawab baru ketika mengirim sebuah lagu.
Mereka perlu mengetahui bagaimana rekaman dibuat dan teknologi apa saja yang digunakan pada bagian kreatif.
Di era produksi digital, hal tersebut bisa menjadi semakin rumit karena satu lagu dapat melewati banyak perangkat lunak dan layanan sebelum akhirnya dirilis.
Lagu Bisa Dicoret Setelah Masuk Chart
Aturan baru tidak hanya berlaku pada karya yang belum masuk daftar.
ARIA mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan rekaman yang dianggap tidak memenuhi syarat, bahkan bila lagu tersebut sebelumnya sudah memperoleh posisi tertentu.
Organisasi dapat menolak sebuah lagu sejak awal, menghapusnya dari chart, mengubah posisi lagu lain, menarik sertifikasi, sampai mencabut penghargaan nomor satu yang sebelumnya diberikan.
Rekaman yang dinyatakan tidak memenuhi syarat juga tidak dapat mengikuti ARIA Awards.
Ketentuan ini berarti status sebuah lagu dapat diperiksa kembali ketika informasi baru mengenai proses pembuatannya muncul.
Namun, artis atau perwakilannya tetap mempunyai jalur keberatan.
ARIA menyediakan mekanisme agar pemilik karya memberikan bukti apabila mereka menilai keputusan awal tidak tepat. Kasus dapat dibawa ke ARIA Chart and Marketing Committee dan selanjutnya ke ARIA Board untuk ditinjau.
Aturan Australia Mengikuti Standar Internasional
Perubahan di Australia bukan kebijakan yang berdiri sendiri.
International Federation of the Phonographic Industry atau IFPI pada 30 Juli 2026 meluncurkan prinsip global mengenai kelayakan rekaman yang dikembangkan dengan AI generatif untuk chart resmi.
Prinsip tersebut dibangun untuk membedakan karya yang dipimpin manusia dengan karya sintetis.
IFPI menetapkan beberapa persyaratan. Teknologi AI yang digunakan harus sesuai aturan, karya harus secara substansial dibuat manusia, tidak boleh menimbulkan persoalan manipulasi streaming, serta harus mematuhi hukum yang berlaku termasuk aturan hak cipta dan hak terkait.
Informasi penggunaan AI juga perlu disampaikan kepada konsumen sesuai aturan pelabelan industri yang berlaku.
IFPI mengembangkan kebijakan tersebut bersama jaringan industri musik di berbagai negara.
Australia kemudian menerapkannya melalui ARIA Charts.
Indonesia Juga Masuk Jaringan Prinsip IFPI
Menariknya, kebijakan global IFPI tidak hanya menyentuh Australia.
Dalam daftar resmi IFPI, prinsip kelayakan AI juga diterapkan pada sejumlah chart yang dikelola langsung organisasi tersebut, termasuk Official Indonesia Chart.
Selain Indonesia terdapat Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam, sejumlah negara Timur Tengah, Afrika, serta Amerika Latin.
Sementara ARIA di Australia masuk kelompok chart nasional yang bekerja sama dengan jaringan IFPI untuk menerapkan prinsip serupa.
Hal tersebut menunjukkan persoalan lagu AI tidak lagi dibahas secara terpisah oleh setiap negara.
Industri musik global mulai mencari satu kerangka yang dapat digunakan untuk membedakan karya manusia, karya dengan bantuan AI, serta karya yang hampir seluruhnya dihasilkan mesin.
Label AI Generated dan AI Assisted Mulai Dibedakan
Sebelum aturan chart diumumkan, industri musik global telah membuat standar label untuk membedakan penggunaan AI pada rekaman.
Pada 10 Juli 2026, IFPI bersama RIAA, A2IM, WIN, IMPALA, The Grammys, SAG AFTRA, dan Human Artistry Campaign memperkenalkan pendekatan pelabelan sukarela untuk lagu.
Dua kategori utama digunakan.
AI Generated berarti AI generatif menghasilkan seluruh atau bagian utama dari unsur kreatif rekaman.
AI Assisted berarti lagu tetap dibuat manusia tetapi AI membantu beberapa unsur tambahan.
Sistem ini diharapkan memberi informasi yang lebih jelas kepada pendengar ketika sebuah lagu menggunakan teknologi generatif.
Metadata nantinya menjadi bagian penting karena informasi tersebut dapat dikirim bersama berkas musik menuju platform digital.
AI Tidak Otomatis Dianggap Musuh Kreativitas
Langkah ARIA tidak menunjukkan bahwa industri musik Australia menolak seluruh kecerdasan buatan.
CEO ARIA Annabelle Herd mengatakan seniman memang telah menggunakan berbagai alat AI dalam pekerjaan mereka dan chart perlu memberikan ruang terhadap penggunaan teknologi tersebut. Persoalan berbeda muncul ketika musik dihasilkan sepenuhnya melalui layanan yang dibangun menggunakan rekaman para artis.
Pandangan serupa disampaikan IFPI.
Organisasi industri rekaman global tersebut menilai AI yang digunakan secara sah dapat menjadi bagian dari perangkat kreatif musisi. Fokus aturan diarahkan pada penggunaan yang menggantikan manusia sebagai inti penciptaan atau memanfaatkan materi tanpa izin.
Batas inilah yang ingin dibuat lebih jelas.
Menggunakan teknologi untuk membersihkan suara atau membantu produksi tidak diperlakukan sama dengan meminta sistem menciptakan vokal utama, permainan instrumen pokok, dan keseluruhan lagu.
Hak Cipta Menjadi Persoalan Besar
Di balik persoalan chart terdapat pertanyaan lebih besar mengenai bagaimana sistem AI generatif memperoleh kemampuan membuat musik.
Model generatif membutuhkan data dalam jumlah sangat besar untuk dilatih.
Industri rekaman menyoroti penggunaan katalog artis tanpa izin sebagai salah satu persoalan utama dalam pengembangan teknologi musik AI. IFPI menegaskan layanan AI yang digunakan dalam karya yang ingin masuk chart harus beroperasi sesuai hukum dan mendapat izin yang diperlukan.
Reuters mencatat label musik besar terus mencari model lisensi baru untuk melindungi katalog mereka ketika layanan AI musik semakin populer.
Persoalannya tidak hanya mengenai suara penyanyi.
Rekaman instrumen, komposisi, karakter produksi, serta berbagai unsur lain dapat menjadi materi yang digunakan sebuah sistem untuk mempelajari pola musik.
Industri kemudian mendorong perusahaan teknologi untuk memberikan transparansi lebih besar mengenai materi yang digunakan dalam pelatihan.
Pemerintah Australia Ikut Menyoroti Hak Kreator
Perdebatan mengenai AI dan musik juga telah masuk ke ranah pemerintah Australia.
Reuters melaporkan Perdana Menteri Anthony Albanese sebelumnya menyatakan pemerintah akan mengambil langkah agar seniman kreatif Australia tetap mempertahankan kepemilikan terhadap karya mereka.
Pemerintah federal juga sedang membahas aturan AI dan pusat data yang mencakup perlindungan hak cipta bagi kreator Australia.
Kebijakan ARIA sendiri bukan undang undang nasional.
ARIA adalah organisasi industri rekaman yang mengelola chart resmi Australia. Karena itu, aturan baru menentukan lagu yang memenuhi syarat untuk chart dan penghargaan, bukan menentukan apakah lagu tersebut boleh beredar di Australia.
Lagu AI masih dapat tersedia di platform streaming selama memenuhi aturan layanan dan hukum yang berlaku.
Perbedaannya, lagu yang dikategorikan sepenuhnya dibuat AI tidak lagi dapat memperoleh pengakuan melalui ARIA Charts.
Streaming Menjadi Tantangan Besar dalam Pengawasan
Jumlah lagu yang masuk platform streaming meningkat sangat cepat.
IFPI pada Juli 2026 mengutip data yang menunjukkan layanan streaming menerima volume besar rekaman berbasis AI. Kondisi tersebut membuat kemampuan industri mengidentifikasi asal sebuah karya menjadi semakin penting.
Satu orang dengan layanan AI generatif dapat menghasilkan banyak lagu dalam waktu jauh lebih singkat dibandingkan proses produksi tradisional.
Masalah berikutnya muncul ketika jumlah tersebut digabungkan dengan sistem otomatis yang dapat meningkatkan streaming secara tidak wajar.
Karena itu, ARIA memasukkan kriteria bahwa lagu tidak boleh memiliki persoalan terkait manipulasi streaming atau chart.
Aturan tersebut berlaku sejalan dengan upaya chart memastikan peringkat benar benar mencerminkan konsumsi masyarakat.
“Chart musik memiliki nilai karena dianggap mencatat pencapaian artis. Ketika produksi dan pemutaran sama sama dapat diotomatisasi, ukuran keberhasilan perlu memiliki pagar yang jauh lebih jelas.”
Radio Australia Ikut Diminta Mengubah Pendekatan
ARIA juga secara terbuka mengajak pihak lain dalam industri musik mengikuti arah aturan tersebut.
Annabelle Herd secara khusus menyebut radio sebagai salah satu pihak yang memiliki peran dalam menentukan musik yang diputar dan dipromosikan kepada pendengar Australia. ARIA meminta mereka mendukung karya manusia melalui aturan yang sejalan.
Permintaan tersebut menjadi penting karena kasus Josh Fawaz memperlihatkan sebuah lagu dengan unsur AI dapat memperoleh rotasi radio yang sangat besar.
Aturan chart tidak otomatis menghentikan stasiun radio memainkan lagu tersebut.
Setiap jaringan radio mempunyai kebijakan pemrograman sendiri.
Karena itu, perubahan ARIA baru menjadi salah satu bagian dalam ekosistem yang lebih luas.
Platform streaming, radio, distributor, label, artis, dan regulator masih harus menentukan bagaimana informasi mengenai penggunaan AI ditampilkan kepada publik.
Artis Independen Harus Lebih Teliti Menggunakan Alat AI
Perubahan aturan juga memengaruhi musisi independen yang tidak bekerja dengan label besar.
Banyak layanan produksi berbasis AI kini dapat digunakan hanya melalui komputer atau telepon. Musisi dapat membuat vokal latar, mengubah suara, menciptakan instrumen tambahan, sampai menghasilkan lagu penuh.
Namun, penggunaan tertentu dapat membuat sebuah rekaman kehilangan kesempatan masuk chart.
ARIA menyarankan artis mempertimbangkan aturan baru sejak proses perekaman apabila mereka ingin lagu tetap memenuhi syarat.
Seorang musisi perlu mengetahui apakah teknologi yang digunakan hanya membantu produksi atau justru mengambil alih unsur utama.
Hal ini juga berkaitan dengan informasi yang diberikan distributor.
Kesalahan deklarasi dapat menjadi persoalan apabila kemudian muncul bukti bahwa bagian utama lagu dihasilkan sistem generatif.
Lagu Lama Bisa Diperiksa Ulang Bila Ada Informasi Baru
Aturan berlaku untuk chart bertanggal mulai 31 Agustus 2026.
Namun, ARIA juga menjelaskan bahwa apabila sebuah rekaman tercantum dalam chart kemudian diketahui tidak memenuhi persyaratan, organisasi dapat melakukan koreksi.
Koreksi dapat mengubah posisi lagu lain karena chart pada dasarnya merupakan daftar berurutan.
Jika satu lagu dicoret, posisi artis di bawahnya dapat bergeser.
Sertifikasi atau penghargaan tertentu juga dapat ditinjau.
ARIA tidak berencana menerbitkan daftar umum mengenai seluruh lagu yang pernah diperiksa atau ditolak.
Komunikasi mengenai penilaian dilakukan langsung dengan pemilik hak.
Pendekatan tersebut dapat menghindari tuduhan terbuka sebelum proses pemeriksaan selesai, sekaligus memberi artis kesempatan menyerahkan bukti.
Penonton Tetap Bisa Mendengar Lagu AI di Platform Digital
Larangan ARIA tidak berarti Australia memblokir lagu buatan AI dari internet.
Platform streaming masih menentukan sendiri kebijakan mereka.
Sebuah rekaman yang tidak layak masuk ARIA Charts masih dapat tersedia untuk didengarkan apabila platform menerimanya.
Perbedaan utamanya berada pada pengakuan industri.
ARIA Charts digunakan sebagai salah satu ukuran utama popularitas musik di Australia. Posisi tinggi dapat menjadi bagian penting promosi artis, liputan media, penghargaan, dan reputasi komersial.
Dengan tidak memberikan posisi kepada karya yang inti penampilannya dibuat AI, ARIA ingin memastikan ruang tersebut tetap berpusat pada pencapaian manusia.
Pada saat yang sama, lagu dengan AI sebagai alat pendukung tetap dapat bersaing.
Batas tersebut kemungkinan terus diuji karena kemampuan teknologi membuat suara dan instrumen semakin sulit dibedakan dari penampilan manusia. ARIA sendiri menyatakan aturan akan terus ditinjau seiring perubahan teknologi dan kebijakan AI.


Comment