Mantrika Ritus Jalanan hadir sebagai kabar yang sulit dilewatkan bagi penikmat musik rock Indonesia, terutama mereka yang mengikuti perjalanan Ari, eks Letto, setelah namanya lama lekat dengan warna musik yang puitis dan kontemplatif. Kini, lewat rilisan terbaru ini, Ari seperti membuka lembar lain dari dirinya, satu sisi yang lebih liar, lebih berdebu, dan terasa sangat dekat dengan denyut jalanan. EP ini bukan sekadar proyek sambilan atau percobaan sesaat, melainkan pernyataan artistik yang terdengar matang, berani, dan penuh keyakinan.
Perubahan arah musikal seperti ini selalu menarik untuk diamati, apalagi ketika datang dari sosok yang sudah punya jejak kuat di telinga publik. Nama Ari selama ini identik dengan sensibilitas lirik yang lembut, atmosferik, dan mengalun. Karena itu, ketika ia melangkah ke wilayah rock lewat Mantrika Ritus Jalanan, publik tentu punya rasa penasaran yang besar. Bukan hanya soal bagaimana bunyinya, tetapi juga tentang apa yang ingin ia ucapkan melalui energi baru tersebut.
Ada sesuatu yang terasa hidup sejak pertama kali mendengar judul EP ini. Frasa Mantrika Ritus Jalanan menyimpan aroma yang gelap, mistis, sekaligus membumi. Ia terdengar seperti pertemuan antara mantra, upacara, dan hiruk pikuk kota yang tak pernah benar benar tidur. Dari judulnya saja, Ari seperti sedang mengajak pendengar masuk ke lorong bunyi yang tidak steril, tidak rapi, tetapi justru kaya tekstur dan pengalaman.
Mantrika Ritus Jalanan dan arah baru Ari
Perjalanan seorang musisi sering kali ditandai oleh keberanian untuk melepaskan kulit lama. Pada Ari, langkah itu terasa nyata dalam EP ini. Ia tidak tampak sedang berusaha mengulang masa lalu, juga tidak terdengar seperti mengejar tren yang sedang ramai. Yang muncul justru kesan bahwa ia sedang menemukan ruang ekspresi yang selama ini mungkin tertahan, lalu menumpahkannya dengan jujur melalui gitar yang lebih garang, ritme yang lebih tegas, dan vokal yang membawa nuansa lebih raw.
Peralihan ini penting karena tidak semua musisi berani mengambil risiko ketika sudah memiliki identitas yang mapan. Banyak yang memilih aman dengan formula lama. Ari justru bergerak ke arah yang bisa mengejutkan penggemarnya sendiri. Namun kejutan itu bukan tanpa pijakan. Ada kedewasaan musikal yang tetap terasa, terutama dalam cara ia menata emosi lagu, memilih diksi, dan menjaga agar ledakan rock dalam EP ini tetap punya jiwa.
Dalam lanskap musik Indonesia, langkah seperti ini punya tempat tersendiri. Rock selalu punya audiens setia, tetapi untuk membuatnya terdengar segar dibutuhkan kepribadian yang kuat. Ari membawa bekal itu. Ia tidak sekadar meminjam bunyi rock, melainkan mengolahnya dengan karakter yang sudah lama ia bangun sebagai penulis lagu.
>
Rock yang baik bukan cuma keras di telinga, tetapi juga meninggalkan gema di kepala setelah lagu selesai.
Bunyi yang kasar, tetapi tidak kehilangan detail
Salah satu hal yang paling menonjol dari EP ini adalah bagaimana bunyinya terasa padat namun tetap terjaga. Ada kesan kasar yang disengaja, seperti debu yang menempel pada jaket kulit setelah perjalanan malam. Gitar tampil dominan, tetapi tidak menelan elemen lain. Bass terdengar memberi fondasi yang kokoh, sementara drum bergerak seperti mesin yang mendorong lagu terus maju tanpa banyak basa basi.
Yang menarik, di balik lapisan bunyi yang keras, Ari tetap menyisakan ruang untuk detail kecil. Ini yang membuat Mantrika Ritus Jalanan tidak jatuh menjadi sekadar bising. Ada momen ketika aransemen seolah menahan diri, memberi celah bagi vokal untuk menonjol, lalu kembali meledak dengan intensitas penuh. Dinamika semacam ini penting dalam sebuah rilisan rock karena membuat pendengar tidak cepat lelah.
Produksi musiknya juga terasa sadar arah. EP ini tidak terdengar terlalu bersih. Ada tekstur mentah yang justru memperkuat identitasnya. Pilihan semacam ini memberi kesan bahwa lagu lagu di dalamnya lahir dari ruang latihan, dari panggung kecil, dari jalan panjang yang ditempuh dengan tubuh dan peluh, bukan dari upaya membuat bunyi yang terlalu dipoles.
Mantrika Ritus Jalanan di lirik yang gelap dan menggigit
Pada wilayah lirik, Ari tetap membawa kekuatan utamanya. Ia adalah penulis kata yang tahu bagaimana membangun suasana tanpa harus menjelaskan semuanya secara gamblang. Dalam Mantrika Ritus Jalanan, lirik liriknya terasa lebih tajam, lebih pekat, dan sesekali seperti melempar tatapan langsung ke wajah pendengar. Ada kesan ritual, ada bayang kota, ada tubuh yang bergerak di bawah lampu jalan, ada batin yang tidak selalu tenang.
Kekuatan lirik dalam EP ini terletak pada kemampuannya memadukan citraan yang puitis dengan energi rock yang keras. Itu bukan pekerjaan mudah. Sering kali lirik puitis bisa tenggelam ketika dibawa ke aransemen yang penuh distorsi. Namun Ari cukup cermat menjaga keseimbangan. Kata kata yang ia pilih tetap punya bobot, bahkan ketika musik di belakangnya melaju dengan tenaga besar.
Yang juga terasa penting adalah bagaimana liriknya tidak terdengar dibuat buat. Ia tidak berusaha menjadi gelap hanya demi terlihat keren. Nuansa kelam dalam EP ini muncul secara organik, seakan memang lahir dari pengamatan, kegelisahan, dan pengalaman yang sudah lama mengendap. Di situlah daya tarik utamanya. Pendengar tidak hanya diajak mendengar lagu, tetapi juga memasuki atmosfer.
Jejak Letto yang masih samar, lalu dibelokkan
Meski EP ini jelas bergerak ke ranah rock, jejak musikal Ari dari masa sebelumnya tidak hilang sepenuhnya. Sesekali masih terdengar cara ia membangun melodi yang melankolis, cara vokalnya menekan kata tertentu, atau cara ia menulis lirik dengan lapisan tafsir. Hanya saja, semua itu kini dibelokkan ke jalur yang lebih keras dan lebih gelisah.
Bagi pendengar lama, ini bisa menjadi pengalaman yang menarik. Mereka akan menemukan sosok yang sama, tetapi dengan pakaian bunyi yang berbeda. Bukan transformasi yang memutus masa lalu, melainkan perkembangan yang memperlihatkan bahwa seorang musisi bisa tumbuh tanpa kehilangan akar. Dalam hal ini, Ari tampak cukup cerdas menjaga benang merah antara fase lama dan fase barunya.
Itu sebabnya Mantrika Ritus Jalanan terasa lebih dari sekadar eksperimen. Ia punya identitas yang jelas. Ia tidak terdengar seperti proyek yang bingung ingin ke mana. Dari awal hingga akhir, EP ini membawa semangat yang konsisten, seolah Ari memang tahu betul dunia seperti apa yang ingin ia bangun.
Jalanan sebagai ruang bunyi dan sikap
Judul EP ini mengandung kata jalanan, dan itu terasa bukan sekadar tempelan estetik. Ada semangat jalanan yang hidup di dalam musiknya. Bukan dalam arti klise, tetapi sebagai ruang tempat bunyi bertemu dengan realitas yang kasar, spontan, dan tak selalu nyaman. Jalanan di sini bisa dibaca sebagai tempat perjumpaan, tempat benturan, tempat orang bertahan, dan tempat emosi bergerak tanpa banyak sensor.
Rock memang punya hubungan lama dengan ruang semacam itu. Ia tumbuh dari kegaduhan, dari perlawanan, dari tubuh yang menolak diam. Ari tampaknya menangkap semangat tersebut dan menerjemahkannya lewat pendekatan yang tetap personal. Hasilnya adalah musik yang terasa dekat dengan denyut kota, namun tidak kehilangan sisi reflektif.
>
Ada lagu yang enak didengar, ada lagu yang perlu dihidupi. EP ini terasa memilih jalur yang kedua.
Kekuatan lain dari EP ini adalah sikapnya yang tidak terlalu sibuk menyenangkan semua orang. Ada keberanian untuk tetap tajam, tetap gelap, dan tetap keras ketika diperlukan. Dalam iklim musik yang sering menuntut segala sesuatu terdengar aman dan mudah dikonsumsi, pilihan seperti ini justru memberi nilai lebih.
Saat Ari terdengar paling lepas
Ada kesan bahwa lewat EP ini Ari sedang berada dalam fase yang sangat lepas sebagai musisi. Ia terdengar tidak dibatasi bayangan nama besar masa lalu, tidak dibebani ekspektasi untuk mengulang formula tertentu. Kebebasan semacam itu biasanya melahirkan karya yang lebih jujur, dan itu terasa kuat di sini.
Keluwesan Ari sebagai penulis dan penyanyi membuat materi dalam EP ini tidak kehilangan arah meski bermain di wilayah yang lebih keras. Ia tahu kapan harus menekan, kapan harus menahan, dan kapan membiarkan bunyi bicara lebih dulu. Kontrol semacam ini menunjukkan pengalaman panjang yang ia miliki di dunia musik.
Bila dilihat sebagai sebuah pernyataan artistik, Mantrika Ritus Jalanan adalah langkah yang penting. Ia menunjukkan bahwa Ari tidak berhenti sebagai nama yang dikenang lewat satu fase band saja. Ia masih bergerak, masih mencari, dan masih punya keberanian untuk menantang telinga pendengar. Bagi skena rock Indonesia, rilisan seperti ini memberi warna yang menyegarkan karena datang dari musisi yang membawa sejarah, namun tidak terjebak nostalgia.
Di tengah banyak rilisan yang terasa cepat datang lalu cepat hilang, EP ini punya peluang untuk tinggal lebih lama di ingatan. Bukan hanya karena nama Ari, tetapi karena ada karakter yang kuat di dalamnya. Ada bunyi yang punya tubuh, ada lirik yang punya bayang, dan ada keberanian yang membuatnya layak dibicarakan lebih jauh di antara rilisan musik Indonesia tahun ini.



Comment